Datu Beru, “Kartini” Sejati Dari Tanoh Gayo (Refleksi Hari Kartini)

Catatan : Fathan Muhammad Taufiq *)

Setiap tanggal 21 April, kita selalu memperingati Hari Kartini dengan berbagai acara seremonial untuk mengenang dan menghargai jasa pahlawan yang telah dianggap pelolpor emansipasi perempuan di Indonesia, Raden Ajeng Kartini. Tapi tidak banyak yang tau bahwa jauh sebelum RA Kartini dilahirkan, nun di Dataran Tinggi Gayo, Aceh, telah lahir sosok perempuan gigih dan cerdas yang telah menancapkan tonggak emansipasi perempuan di Ujung Barat Indonesia ini, namun sosok yang satu ini nyaris luput dari catatan sejarah. Padahal, sebelum orang mengenal kepahlawanan perempuan Aceh lainnya seperti Cut Nya’ Dien dan Cut Mutia, beliau telah berkiprah dengan emansipasinya.

Nama Qurrata ‘Aini perempuan asal dataran tinggi Gayo mungkin belum banyak dikenal dalam sejarah para pahlawan wanita di Indonesia, bahkan mungkin belum pernah tercatat dalam buku sejarah nasional manapun. Meski dalam khazanah sejarah Negeri Linge di Gayo, nama itu sudah sangat melegenda, namun pamor perempuan berjuluk Datu Beru ini masih sangat jauh dibandingkan dengan RA Kartini, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan dan pahlawan wanita lainnya. Dalam catatan sejarah Aceh sendiri, namnya juga tidak begitu dikenal, padahal kalau melihat riwayat perjuangannya, perempuan ini sejatinya bisa disejajarkan dengan tokoh sekelas Tjoet Nya’ Dien, Tjut Mutia maupu Laksamana Malahayati. Tapi catatan sejarah pahlawan Gayo ini, seakan tenggelam dibalik nama-nama besar tersebut, salah satunya akibat minimnya catatan sejarah tentang sosok perempuan luar biasa ini.

Tak banyak catatan sejarah tentang sosok pahlawan perempuan Gayo ini, bahkan tanggal kelahiran beliaupun sampai saat ini masih simpang siur. Tapi berdasarkan penulusuran penulis pada beberapa catatan sejarah Gayo, Datu Beru hidup pada masa pemerintahan kerajaan Aceh dipegang oleh Sultan Ali Mughayatsyah yang memerintah kerajaan Aceh dari tahun 1514 sampai dengan 1530. Pada saat itu Datu Beru sudah dewasa dan sudah berkiprah di parlemen Aceh dan ditunjuk sebagai penasehat kerajaan. Artinya, meski tidak ada catatan pasti tentang tanggal atau tahun kelahiran beliau, bisa dipastikan bahwa beliau lahir sebelum tahun 1514 tersebut.

Nama Datu Beru sendiri melekat pada diri perempuan bernama asli Qurrat ‘Aini ini konon karena sampai akhir hayatnya, beliau tetap berstatus sebagai gadis ( dalam bahasa Gayo disebut Beru). Karena beliau wafat dalam usia lanjut, maka masyarakat Gayo menjulukinya Datu (dalam bahasa Indonesia Buyut), maka lekatlah nama datu Beru pada diri perempuan sebenarnya sangat layak disebut sebagai seorang pahlawan Aceh bahkan pahlawan Nasional ini.

Menurut catatan Yusra Habib Abdul Gani, seorang ahli sejarah asal Gayo yang kini berdomisili di Denmark, Qurrata ‘Aini atau yang lebih dikenal dengan sebutan Datu Beru ini adalah seorang tokoh wanita Aceh yang sejak kecil lagi sudah melekat ciri-ciri kepemimpinan dan pmbela kebenaran. Beliau sangat cerdas, menguasai ilmu agama, politik, falsafah dan hukum. Oleh sebab itu, Raja Linge mengutus Qurrata’aini sebagai wakil resmi dari Kerajaan Linge dalam Parlemen Aceh di Kutaraja. Prestasi gemilangnya, sempat menggemparkan dunia pradilan Aceh pada ketika itu, hanya saja tidak diketahui secara meluas, karena kurangnya minat para pakar sejarah khususnya dari Gayo] untuk meneliti dan menulis demi memperkaya khazanah sejarah Aceh.

Lebih lanjut Director Institute for Ethnics Civilization Research, Denmark  ini menuturkan bahwa Qurrata’aini punya “warna” lain dalam berkiprah di dunia hukum, politik dan pemerintahan kerajaan Aceh pada masa itu. Beliau menjadi satu-satunya wanita Aceh yang mampu menduduki kursi Parlemen pusat pada masa pemerintahan Sultan Ali Mughayatsyah. Kemampuan dan pengetahuan tentang hukumnya yang sangat mumpuni, membuat beliau sangat disegani dalam parlemen Aceh. Selain mahir memainkan peran politik, beliau juga dikenal sebagai ahli hukum, penasehat hokum dan pengacara yang handal. Tak jarang Sultan Ali Mughayatsyah meminta pertimbangan dan saran dari beliau saat akan memutuskan permasalahan hokum yang rumit dan pelik.

Masih dalam  catatan Yusra Habib, Qurrata ‘Aini pernah membuat catatan sejarah dibidang hukum dengan mengambil tindakan yang yang pada masa itu dianggap cukup “berani”. Waktu itu beliau dimantai pertimbangan oleh Sultan Aceh dalam memutuskan perkara pidana pembunuhan yang melibatkan salah seorang putra Raja Linge. Pada masa itu hokum yang diterapkan di kerjaan Aceh adalah hukum Islam  dimana setiap pelaku pembunuhan yang telah terbukti melakukan tindakan tersebut, wajib dihukum Qisash (hukman mati). Namun pada waktu itu beliau menentang hukuman tersebut, bukan berarti beliau melawan hukum syariat, tapi beliau berdalih bahwa dalam Al Qur’an pun telah disebutkan bahwa hokum qisash bisa gugur jika ahli waris korban mau memaafkan si pelaku.

Pelaku akhirnya hanya dihukum membayat diyat (denda) kepada ahli waris dan menjalani hukuman adat. Tapi justru dengan hukuman adat tersebut menjadi efek jera bagi pelaku, karena hukuman adat sejatinya menimbulkan beban psikologis yang sangat berat bagi pelaku. Pada waktu itu beliau berprinsip bahwa hukuman mati bukanlah sebuah solusi, karena dengan hukuman mati, seseorang tidak akan bisa lagi memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukannya. Meski demikian, pertimbangan hokum beliau tetap tidak melanggar aturan yang tercantum dalam Al Qur’an yang menjadi kitab hokum yang berlaku di kerajaan Aceh pada masa itu. Artinya keberanian beliau itu bakan tanpa dasar, tapi justru merupakan hasil kajian yang mendalam dari kandungan Al Qur’an itu sendiri.

Sejak kejadian tersebut, nama beliau semakin dikenal sebagai ahli dan pakar hokum yang sangat menguasai permasalah hokum baik secara syariat maupun secara adat. Posisi beliau sebagai satu-satunya perempuan yang menguasai hukum, membuat beliau sangat disegani dikalangan kerajaan. Menjadi seorang pakar hokum dan anggota parlemen kerajaan bagi perempuan pada masa itu bukanlah hal yang lazim, namun beliau dapan menjalani peran tersebut dengan baik ditengah dominasi kaum pria pada waktu itu.

Ini menunjukkan bahwa beliau adalah seorang perempuan yang memiliki kapasitas dan kualitas sumberdaya manusia yang sangat mengagumkan. Bayangkan pada tahun 1514 beliau sudah berkiprah sebagai anggota parlemen dan penasehat hokum kerajaan, padahal pada waktu itu Tjoet Nya’ Dien (lahir tahun 1848), Tjoet Mutia (lahir tahun 1870) dan Kartini (lahir tahun 1870) yang sudah dinobatkan sebagai pahlawan nasional itu belum lahir. Artinya perjuangan emansipasi yang dilakukan oleh Datu Beru sejatinya sudah dilakukan jauh sebelum para pahlawan perempuan itu lahir.

Dengan realita seperti itu, sudah selayaknya Qurrata ‘Aini alias Datu Beru, perempuan tangguh dari Dataran Tinggi Gayo ini juga diakui sebagai seorang pahlawan nasional. Meski secara de facto, pengakuan itu sudah lama diberikan oleh masyarakat Gayo. Penelusuran sejarah faktual yang jujur, tentu sangat diperlukan untuk mengungkap sejarah Datu Beru yang sesungguhnya, dan itu sangat penting sebagai prasarat legal untuk mengajukan beliau sebagai pahlawan nasional yang disahkan oleh pemerintah. Sosok pakar sejarah seperti Yusra Habib Abdul Gani, peneliti muda Yusradi Usman Al Gayoni, adalah dua nama yang layak untuk diajak duduk membuka tabir sejarah Datu Beru ini, mereka berdua memiliki kapasitas yang sangat memadai untuk mengungkap catatan sejarah yang seala ini sekan-akan sengaja di tutup-tutupi ini. Terlebih Yusra Habib yang kini berdomisili di negara Denmark tentu lebih mudah mendapatkan akses untuk mencari literasi sejarah tersebut ke berberapa Negara Eropa.

Meski pengakuan formal bagi Datu Beru sampai saat ini belum diberikan oleh pemerintah, namun secara factual sejatinya Datu Beru inilah pahlawan emansipasi pertama di negeri ini. Tidak berlebihanrasanya  jika menyebuat beliau sebagai Kartini Sejati dari Gayo. Pernyataan proklamator kita. Bung Karno yang  pernah mengatakan Jas Merah (Jangan sekali-sekali melupakan sejarah), mungkin bisa menjadi “cambuk” bagi generasi Gayo untuk terus meneluuluri sejarah pahlawan kebanggan kita ini. Mengingat referensi di dalam negeri tentang sosok perempuan tangguh ini sangat minim, perpustakaan Universitas Leiden, di negeri kincir angin, mungkin bisa jadi awal penelusuran untuk membuka tabir sejarah ini, karena konon di perpustakaan universitas tertua di negeri Belanda ini banyak tersimpan catatan sejarah Aceh, dan tidak mustahil catatan sejarah tentang Datu Beru juga tersimpan disana. Untuk memulainya tentu perlu sinergi dan kepedulian semua pihak, karena kalau tidak segera dilakukan, bukan mustahin generasi mendatang hanya menganggap Datu Beru sebagai sebuah legenda.

*) Pemerhati sosial budaya, penulis dan kontributor berita/artikel di berbagai media cetak dan online, berdomisili di Takengon.

.

Buku “Inspirasi Dari Gayo” Di Tangan Shabela, Antara Harapan dan Apresiasi

Penulis Menyerahkan Buku Inspirasi Dari Gayo kepada Pak Shabela

Beberapa hari yang lalu, saya sempat memberikan buku “Inspirasi Dari Gayo” kepada Bupati terpilih Aceh Tengah, Bapak Drs. Shabela Abu Bakar. Sebenarnya tidak ada kepentingan apapun bagi saya dengan menyerahkan buku yang saya terbitkan pada akhir tahun 2015 itu, saya hanya ingin beliau berkenan membaca tentang kisah sosok-sosok petani dan penyuluh inspiratif dari Dataran Tinggi Gayo yang saya angkat dalam buku tersebut. Kalaupun ada setitik harapan dari saya terkait dengan penyerahan buku tersebut, saya cuma menginginkan agar beliau nantinya bisa memberikan apresiasi yang wajar kepada para penyuluh pertanian yang selama ini telah mengabdikan diri dengan tulus untuk membina petani dan membangun pertanian di Negeri Antara ini, selepas membaca buku saya itu..

Tanpa disengaja, dua hari setelah itu saya kembali bertemu dengan Pak Shabela dalam sebuah forum informal, sebuah kebetulan mungkin, saya duduk tepat di samping beliau. Membuka perbincangan tidak resmi itu, beliau langsung menyinggung tentang buku yang saya serahkan dua hari sebelumnya. Beliau bertanya kepada saya, kenapa sosok penyuluh kreatif seperti Pak Winyo yang merupakan sosok penyuluh yang eksis dalam pengembangan Jeruk Keprok Gayo dan gigih memperjuangakan Indikasi Geografis (IG) Jeruk Gayo itu tidak masuk dalam buku saya tersebut.  Dalam hati saya jadi bersyukur, berarti beliau langsung membaca isi buku tersebut sampai habis, sampai-sampai beliau tau ada bebarapa sosok penyuluh yang “lolos” dari buku perdana saya itu.

Bincang2 Informal dengan Bapak Shabela Abu Bakar

Spontan saya menjawab, bahwa sosok Pak Wiknyo pernah saya angkat dalam tulisan saya di media pertanian nasional. Insya Allah, sosok Pak Wiknyo dan juga sosok-sosok inspiratif Gayo lainnya seperti Bapak Ir. M Nur Gaybita, beberapa petani dan kelompok tani yang telah berhasil dengan usaha tani mereka dan sosok-sosok penyuluh pertanian inspiratif lainnya  akan kembali saya angkat melalui buku “Inspirasi Dari Gayo Jilid 2”. Sepertinya beliau cukup responsif dengan apa yang saya jelaskan, saya melihat sosok Shabela Abu Bakar yang sudah saya kenal sejak beliau masih menjabat sebagai Camat Silih Nara itu, juga cukup apresiasif terhadap karya para penulis Gayo seperti Pak Muhammad Syukri, Khalissuddin, Doktor Johansyah, LK Ara dan lain-lainnya, karena dalam kesempatan itu, beliau juga menyebut karya-karya penulis tersebut.  Dan dari nada pembicaraannnya, sepertinya beliau siap untuk membantu atau memfasilitasi penerbitan buku-buku karya para penulis Gayo tersebut, karena saya juga melihat beliau seorang yang punya hobby membaca.

Meski dalam hati kecil saya berharap beliau mau memfasilitasi penerbitan buku saya berikutnya, tapi saya belum berani mengungkapkan ini kepada beliau. Karena meski secara pribadi saya sudah mengenal beliau sejak lama, tapi usai pelantikan nanti, beliau akan menjadi penentu kebijakan di Kabupaten Aceh Tengah, tentunya banyak yang akan menjadi prioritas di awal-awal masa kepemimpinan beliau, itulah sebabnya saya belum berani “mengganggu” beliau untuk menyampaikan harapan saya tersebut.

Secara politis, mungkin saya memang tidak ada kaitan apapun dengan beliau, karena saya sendiri memang sedikit “alergi” dengan urusan politik. Tapi sebagai salah satu abdi masyarakat yang bertugas di kabupaten Aceh Tengah, tentu saya juga punya obsesi untuk bisa mempersembahkan karya yang bisa bermanfaat bagi masyarakat Gayo, dan dalam kapasitas ini, suatu saat saya pasti butuh bantuan beliau, bukan dalam bentuk financial, tapi cukuplah dengan dukungan moril dan fasilitasisekedarnya.

Menulis memang sudah menjadi bagian dari pengabdian saya itu, dan berharap agar orang nomor satu di Aceh Tengah ini nantinya bisa membantu saya menerbitkan karya tulis saya dalam bentuk buku, tentu bukanlah sebuah harapan yang terlalu muluk. Dan melihat kesederhanaan pak Shabela serta apresiasi beliau terhadap buku pertama saya ini, saya jadi optimis, suatu saat nanti beliau akan membantu saya menerbitkan buku-buku saya selanjutnya. Semoga.

Melirik Karya Penyuluh Pertanian Kreatif di Gayo

Catatan : Fathan Muhammad Taufiq *)

Kreativitas Penyuluh Gayo

Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah, selain memiliki potensi pertanian yang luar biasa seperti Kopi Arabika, Jeruk Keprok, Alpukad, Kentang, Cabe, Tomat, Kol dan sebagainya, ternyata juga “kaya” potensi sumberdaya manusia di bidang penyuluhan pertanian. Para penyuluh pertanian di Gayo ini, selain menjalankan tugas mereka sebagai pendamping dan pembina petani untuk mencapai keberhasilan dalam usaha tani, beberapa diantara mereka juga memiliki kreativitas yang sangat bermanfaat bagi pembangunan pertanian di daerah ini.

Keterbatasan fasilitas yang dimiliki para penyuluh, ternyata tidak lantas membatasi kreativitas dan inovasi mereka. Dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada, mereka mampu menciptakan temuan baru yang sangat bermanfaat bagi petani. Ada beberapa orang penyuluh pertanian di kabupaten Aceh Tengah yang menurut penuluran penulis, memiliki kreativitas “lebih” dibandingkan dengan penyuluh lainnya, mereka telah menunjukkan daya kreasi mereka untuk mengsailkan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka sendiri maupun bagi petani binaan mereka. Berikut beberapa penyuluh yang penulis anggap memiliki kreativitas luar biasa;

  1. LEGIMIN, pencipta alat Caplak Jajar Legowo dan alat penyiang padi “Landak”.

Penyuluh pertanian kotrak atau THL-TBPP kelahiran Takengon, 20 Agustus 1979 ini sudah menekuni profesi sejak tahun 2009 yang lalu, dan sejak diangkat ebagai penyuluh kontrak, di ditempatkan di wilayah kecamatan Celala, salah satu kecamatan di kabupaten Aceh Tengah yang memiliki potensi lahan sawah cukup luas.  Otomatis, selama menjalankan tugasnya, dia lebih fokus untuk membina petani padi di wilayah kerjanya tersebut, meski demikian petani kopi dan petani hortikultura yang ada di sana juga tidak luput dari pembinaannya.

Program percebatan  swasembada pangan melalui Upaya Khusus peningkatan produksi padi, jagung dan kedele (Upsus Pajale) yang mulai dilaksanakan pada awal tahun 2015 yang lalu, akhirnya melibatkan Legimin untuk lebih intensif membina petani agar mereka dapat meningkatkan produktivitas padi mereka. Salah satu upaya meningkatkan produktivitsa padi tersebut adalah melalui penerapan pola tanam jajar legowo. Namun tidak mudah bagi Legimin mengajak petani untuk menerapkan pola tanam jajar legowo ini, karena menurut para petani, pola tanam ini cukup ribet dan menyita waktu serta tenaga pada saat penanaman, karena mereka sudah terbiasa dengan pola tanam konvensional. Itu yang membuat Legimin berfikir bagaimana agar petani dapat melaksanakan pola tanam jajar legowo ini secara mudah, cepat dan praktis. Garis lurus sebagai acuan jajaran tanaman padi, sering menjadi keluhan petani, karena sebelum menanam, petani harus menggaris atau membentangkan tali terlebih dahulu, dan ini menurut mereka sangat menyita waktu dan tenaga.

Menjawab keluhan petani tersebut, dia mulai berfikir untuk membuat alat yang bisa membantu memudahkan petani dalam menerapkan pola tanam jajar legowo ini, sampai akhirnya dia bisa membuat alat caplak jajar legowo yang ternyata sangat bermanfaat  Dari rancangan sederhana yang dia buat, jadilah sebuah alat yang kemudian dikenal sebagai alat caplak jajar legowo. Dengan alat ini, petani tidak perlu lagi repot-repot menggarias atau membentangkan tali untuk meluruskan barisan tanaman padi, tapi cukup mendorong lurus alat ini dan mengikuti garis yang ditinggalkan oleh alat ini untuk menanam padi.

Tak hanya “menciptakan” alat caplak jajar legowo, Legimin juga membuat alat lain yang bisa memudahkan petani untuk mengendalikan gulma di lahan sawah, karena penanggulangan gulma juga sering menjadi kendala bagi petani. Penyiangan gulma secara manual, banyak menyita waktu, tenaga bahkan biaya, dan ini dapat membebani biaya produksi yang harus dikeluarkan petani. Itu yang akhirnya menjadi pertimbangan Legimin untuk memodifikasi alat sederhana yang bisa membantu petani untuk melakukan penyiangan gulma secara cepat dan praktis. Alat yang dinamai “landak” ini, berupa roda kayu atau besi yang seluruh permukaannya dipasang paku besar, mirip dengan bulu Landak, kemudian diberi gagang untuk memudahkan pengoperasiannya. Alat tersebut kemudian digunakan pada lorong-lorong di sawah yang ditanami padi dengan pola jajar legowo, gulma yang ada akan tersangku pada paku-paku tersebut dan petani tinggal membuangnya. Aadnya lorong-lorong memanjang dan lurus pada pola tanam jajar legowo, memudahkan untuk pengoperasian alat ini, sementara untuk pola konvensional, alat ini agak sulit digunakan, karena pada pola konvensional, garis tanam tidak lurus dan tidak beraturan.

Sederhana memang, dua alat yang “diciptakan” oleh Legimin dibantua oleh teman-teman penyuluh lainnya ini, tapi manfaatnya begitu besar, karena langsung menunjang program upsus peningkatan produksi padi. Antusias petani untuk menerapka pola tanam jajar legowo setelah adanya alat ini, akan menjadi pemicu peningkatan produktivitas padi, khususnya di kecamatan Celala. Meski masih berstatus penyuluh kontrak, semangat dan kreatifitas penyuluh yang satu ini pantas diacungi jempol.

  1. SUYITO, SP, penemu alat pelubang mulsa praktis.

Dia merupakan salah seorang penyuluh senior yang ada di kabupaten Aceh Tengah, sudah bertugas sebagai penyuluh pertanian sejak tahun 1980an, Suyito memang sudah kenyang makan asam garam di bidang penyuluhan pertanian. Peraih Satya Lencana dari Presiden RI pada tahun 2015 yang lalu itu sudah tidak asing lagi bagi para petani di saentero kabupaten Aceh Tengah. Hampir semua daerah di kabupaten ini pernah menjadi wilayah binaanya, dan berbagai ilmu serta pengalaman di bidang pertanian yang dimilikinya sudah tidak diragukan lagi. Bhkan dalam kapasitasnya sebagai Faslitator Daerah, dia sudah sering diundang oleh kabupaten-kabupaten lain di Aceh untuk memberikan penyuluhan dan motivasi kepada para petani di daerah tersebut. .

Saat ini penyuluh kelahiran Paya Tumpi, Aceh Tengah 11 Desember 1963 ini dipercaya sebagai Kepala BPP Lut Tawar yang wilayah kerjanya meliputi seluruh kecamatan Lut Tawar yang berada di pinggiran Danau Laut Tawar. Sesuai dengan potensinya, wilayah ini merupakan areal pengembangan hortikultura khususnya cabe, bawang merah dan tomat, selain komoditi padi. Sistim usaha tani cabe dan bawang merah yang dilakukan petani di kecamatan Lut Tawar dan juga daerah lain di kabupaten Aceh Tengah adalah penanaman dengan menggunakan mulsa plastic sebagai penutup lahan. Ini dilakukan untuk menekan pertumbuhan gulma pengganggu tanaman yang pertumbuhannya sangat cepat dan penanggulangannya cukup sulit. Dengan menggunakan mulsa plastik, pertumbuhan tanaman cabe maupun bawang merahb isa optimal, karena tidak terganggu oleh berbagai gulma.

Sistim penanaman menggunakan mulsa ini memang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan, karena setelah tanah di olah dan diberikan pupuk lalu dibuat guludan atau bedengan, kemudian bedengan tersebut ditutup dengan plastic mulsa. Pada saat akan dilakukan penanaman, dibuatlah lubang tanam dengan melubangi plastik mulsa tersebut. Alat yang digunakan oleh petani biasanya adalah kaleng bekas susu cair yang diisi dengan arang yang di bakar. Kaleng panas tersebut kemudian akan membentuk bulatan-bulatan pada mulsa dengan diameter sekitar 10 cm. Tapi cara ini kurang praktis dan membutuhkan banyak waktu dan tenaga.

Dari situlah kemudian timbul ide Suyito untuk membuat alat pelubang mulsa yang lebih praktis. Bersama penyuluh lainnya, Kaslil dan Salman, dia kemudian menciptakan alat sederhana untuk membuat lubang pada mulsa secara cepat dan mudah. Mengunakan potongan pipa besi dengan ukuran hampir sama dengan diameter kaleng susu, alat buatan Suyito ini dapat digunakan tanpa harus dipanaskan dengan api, karena bagian bawah alat ini sudah dibuat tajam sehingga langsung bisa memotong atau melubangi plastik sesuai ukran yang diinginkan. Dengan alat ini, hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk membuat lubang tanam diasa mulsa tresebut, sementara dengan menggunakan alat manual sebelumnya, bisa memakan waktu berjam-jam.

Sebuah inovasi sederhana mungkin, tapi apa yang sudah dilakukan Suyito dan kawan-kawan, sangatlah bermanfaat bagi petani cabe dan bawang. Mereka bisa menghemat tenaga dan waktu untuk membuat lubang tanam diatas mulsa, dan tentunya dengan alat ini betani bisa menghemat biaya produksi karena menghemat tenaga kerja.

  1. ANUGRAH FITRADI, S Pt, pembuat meriam pipa pengusir hama babi.

Penyuluh yang satu ini tergolong gesit, meski latar belakang pendidikannya dalah sarjana peternakan, namun semua sub sector pertanian seperti tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan sudah sangat dikuasainya berkat kemauan kerasnya untuk menimba ilmu dan pengalaman dari para seniornya.

Bertugas di wilayah BPP Jagong Jeget yang wilayahnya banyak berbatasan dengan kawasan hutan, Anugrah sering menerima keluhan dari petani binaanya tentang seringnya terjadi serangan hama babi hutan yang menyerang dan merusak tanaman petani. Berbagai upaya untuk menggulangi hama ini sudah dilakukan seperti memasang jerat, memasang racun atau melakukan perburuan secara berkala, namun hama ini masih tetap menjadi “momok” bagi petani, terutama yang memiliki lahan pertanian di dekat kawasan hutan.

Sebagai penyuluh cerdas yang suka mencari berbagai referensi dari media, Anugrah pun ikut memutar otak untuk mengatasi kendala hama yang sering dikeluhkan oleh petani. Belajar dari pengalaman petani dalam mengusir babi hutan, dia jadi tau bahwa babi hutan sangat takut dengan bunyi-bunyian, apalagi yang sifatnya mengejutkan seperti petasan atau letusan senjata api. Menyarankan petani untuk menggunakan petasan, tentu bukan tindakan bijak, karena mengandung resiko yang mebahayakan petani, mengunakan senjata api juga sesuatu yang tidak mungkin.

Tekad yang kuat untuk membantu petani mengatasi permasalahan mereka, membuat Anugrah mulai merancang alat yang bisa digunakan untuk mengusir hama babi hutan. Berbekal potongan-potongan pipa paralon, dia mulai merancang “meriam pipa”, untuk “amunisi”nya, dia menggunakan botol atau kaleng bekas cat semprot atau spray yang bisa meledak kalau dipanaskan, sementasa untuk pemantiknya,, dia gunakan magnit yang diambil dari korek api gas bekas. Meski bisa menimbulkan suara ledakan yang cukup keras, tapi meriam ini tidak mebahayakan bagi petani karena tidak akan meledak seperti mercon. Efek suara keras dari meriam pipa inilah yang kemudian dijadikannya untuk menakut-nakuti babi hutan yang masuk ke lahan petani. Setelah dia plikasikan di beberpa kebun petani, ternyata alat ini cukup efektif mengurangi serangan hama babi.

Penyuluh yang satu ini memang termasuk salah seorang dari sedikit penyuluh yang rajin mengakses media, itulah sebabnya banyak informasi actual yang diketahui oleh penyuluh ini. Yang membuat penyuluh ini agak istimewa, dia juga punya kemampuan menulis, beberapa tulisannya terkait dengan aktifitasnya sebagai penyuluh, pernah dimuat di beberapa media online. Dan meriam pipa buatannya, merupakan salah satu karya inovasinya yang sangat bermanfaat bagi petani, meskipun untuk diaplikasikan secara luas, masih butuh beberapa penyempurnaan, tapi setidaknya dia sudah mampu mebuat terobosan baru yang bisa menjadi solusi bagi petani dalam mengatasi masalah hama yang selama ini mereka hadapi.

  1. SAPRIN ZAILANI, SP, pembuat dan aplikator pupuk organik.

Penyuluh yang satu ini sangat paham bahwa dunia pertanian itu bergerak secara dinamis mengikuti perkembangan teknologi dan juga tren pasar, karena sistim pertanian modern memamng mangacu kepada pasar (agribisnis). Itulah sebabnya dia berpendapat bahwa penyuluh tidak boleh statis, tapi terus mengembangkan potensi diri serta meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dengan berbagai cara. Belajar dari pengalaman orang lain, membaca berbagai referensi serta mengikuti berbagai diklat adalah cara terbaik untuk meningkatkan kapasitas seorag penyuluh, begitu kira-kira prinsipnya.

Penyuluh yang masih tergolong muda ini sudah sarat dengan berbagai ilmu dan pengalaman. Pengalamannya berkunjung ke beberapa daerah di luar Aceh, dia jadkan sebagai bekal untuk membina petani di wilayah binaanya. Terobosan-terobosan baru sering dia lakukan demi  untuk meningkatkan pengetahuan petani guna meningkatkan kesejahteraan mereka.

Tren pasar yang menghendaki produk-produk pertanian organik, menjadi salah satu fokus baginya dalam melakukan pembinaan kepada petani. Dalam melakukan aktifitas penyuluhan, penyuluh yang juga Kepala BPP Linge ini selalu menekankan agar petani menggunakan material-material organik dalam usaha tani mereka, karena produk-produk organik inilah yang akan mampu bersaing di pasar, apalagi dalam iklim perdagangan bebas seperti sekarang ini, sehingga semua produk yang dihasilkan petani tidak mengalami kendala pemasaran.

Tak hanya menyarankan, tapi Saprin juga mampu meberikan contoh bagaimana bertani organik, demplot percobaan yang dia buat bersama para penyuluh di BPP Linge, semuanya menggunakan pola organic, baik untuk pupuk maupun pestisidanya. Dan yang membuatnya berbeda, dia mampu membuat pupuk dan pestisida organic sendiri dengan memanfaatkan potensi yang ada di sekitar lahan petani. Berbekal referensi tentang berbagai unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman, dia sudah mampu membuat pupuk organik baik padat maupun cair sendiri dengan komposisi hara lengkap, sehingga tidak membutuhkan tambahan pupuk buatan lagi.

Kemampuan membuat pupuk organik ini  yang akhirnya dia tularkan kepada petani dan kelompok tani binaannya. Harga yang murah serta proses pembuatan yang tidak sulit, menjadi pertimbangan bagi Safrin untuk terus mensosialisasikan temuannya ini kepada petani, karena dengan menkan biaya produksi, tentu saja  profit margin yang akan diterima petani akan lebih besar, dan ini akan menjadi salah satu cara meningkatkan kesejahteraan mereka. Tak pernah berharap apresiasi atau penghargaan, penyuluh kelahiran Kebayakan, Aceh Tengah 38 tahun yang lalu ini, terus menunjukkan kiprahnya sebagai penyuluh yang kehadirannya selalu ditunggu  dan keberadaaanya selalu dibutuhkan petani.

  1. Edi Wahyuni, “menyulap” limbah buah-buahan menjadi pupuk organik cair.

Berawal dari keprihatinannya melihat banyaknya sisa-sisa buah dan buah-buahan yang sudah tidak terpakai menumpuk di sudut Pasar Paya Ilang, salah satu pasar sayur dan buah terbesar di kota dingin Takengon, muncullah ide untuk memanfaatkan buah-buahan “kadaluarsa” tersebut untuk sesuatu yang bermanfaat. Edi yang berperawakan tegap itu pun dengan sigap mengangkat dan mengumpulkan limbah buah-buahan yang terdiri dari buah nenas, jeruk, semangka, jambu, mangga, papaya dan sebagainya lalu dibawa ke rumahnya. Dia pun mulai mencari referensi tentang kandungan zat yang terdapat dalam buah-buahan tersebut, dan akhirnya dia mendapatkan referensi bahwa sari dari buah-buahan tersebut mengandung enzim yang berfungsi sebagai zat perangsang tumbuh pada tanaman.

Tanpa ragu, sang penyuluh pertanian yang sehari-hari bertugas di BPP Kute Panag itupun mulai “memproses” limbah buah-buahan itu menjadi semacam pupuk organik yang berbentuk cair, karena memang buah-buahan tersebut mengandung banyak air, jadi agak sulit jika dibuat menjadi pupuk padat. Dengan peralatan seadanya, Edi mulai menghancurkan buah-buahan itu menjadi “bubur buah”, kemudian di saring dan di ambil sarinya. Untuk merubah cairan itu menjadi pupuk butuh proses fermentasi selama 12 – 15 hari dan sebagai stimulator dan activator agar enzim yang diharapkan cepat terbentuk, Edi menambahkan gula merah pada larutan buah itu dan untuk mempercepat proses fermentasi, dia juga menambahkan air kelapa, menurut referensi yang dia dapatkan bahwa penambahan air kelapa pada cairan buah-buahan tersebut mempercepat terbentuknya  hormon sitokinin, auksin dan giberalin yang memiliki fungsi merangsang pertumbuhan akar, batang, daun dan buah pada tanaman, sementara untuk menghambat tumbuhnya bakteri yang merugikan, dia menambahkan air cucian beras.

Sekelumit kisah kreatif dari seorang penyuluh pertanian yang terus berkreasi dan berinovasi dengan memanfaatkan limbah yang selama ini tidak pernah dilirik oleh siapapun yang kemudian saya angkat melalui media online lokal dan blog Kompasiana, akhirnya menarik perhatian produser acara Liputan 6 SCTV Jakarta. Setelah meminta izin kepada saya selaku penulis, akhirnya pihak SCTV mengirimkan krunya untuk melakukan syutting tentang aktivitas  Edi Wahyuni yang telah berhasil “menyulap” tumpukan buah-buahan busuk yang selama ini terbuang percuma di pasar itu ternyata menjadi pupuk organik cair murah yang ternyata sangat bermanfaat untuk membantu para petani itu.  Setelah melalui proses syuting selama dua hari degan mengambil lokasi di beberapa tempat di Takengon, dan saya selaku penulis juga terlabat aktif dalam pengambilan gambar tersebut, akhirnya sosok penyuluh THL-TBPP ini muncul dalam tayangan “Sosok Minggu Ini” dalam program Liputan 6 Siang yang ditayangkan oleh stasiun televise nasional SCTV pada hari Minggu tanggal 18 Oktober 2015 yang lalu. Setelah sosoknya tampil dalam tayangan broadcast berskala nasional itu, pupuk organic cair “karya” Edi semakin dikenal masyarakat, apalagi setelah Fakultas Pertanian Universitas Gajah Putih Takengon melakukan penelitian terhadap pupuk cair ini, kemudian merekomendasikan bahwa pupuk hasil temuan Edi ini mengandung Mikro Organisme Lokal (MOL) yang mampu merangsang pembentukan unsur hara pada tanah yang tentu saja sangat bermanfaat bagi tanaman. Selain memiliki nilai ekonomis yang menjanjikan, apa yang dilakukan oleh penyuluh pertanian energik ini ternyata secara tidak langsung juga telah “menyelamatkan” lingkungan dari tumpukan sampah buah yang baunya sangat mengganggu itu, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui, begitu kira-kira falsafahnya Edi Wahyuni, sebuah kreatifitas yang patut diberikan apresiasi oleh semua pihak. Kraetivitas yang telah ditunjukkan Edi tidak hanya membanggakan diri dan keluarganya nya, tapi juga menjadi kebanggaan bagi rekan-rekan penyuluh lainnya di Dataran Tinggi Gayo Aceh Tengah. Sebuah kreativitas luar iasa yang lahir dari seorang penyuluh kontrak yang meski memiliki keterbatasan fasilitas, namun mampu menggali potensi diri untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat, sebuah keteladanan yang pantas dicontoh oleh para penyuluh pertanian lainnya.

Masih banyak penyuluh-penyuluh lain di Dataran Tinggi Gayo yang memiliki kraetifitas “lebih” dan layak diangkat ke media, Insya Allah dalam ksempatan yang akan datang, penulis akan kembali mengangkat sosok-sosok penyuluh kreatif lainnya. Bukan untuk menggurui, tapi sekedar membari motivasi dan inspirasi bagi pembaca.

*) Penulis adalah Kasi Metoda dan Informasi Penyuluhan Pertanian pada Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah, penulis dan kontributor artikel/berita pertanian di berbagai media cetak dan media online.

 

 

Ketemu “Anak Bule” di Lamno (Sebuah catatan perjalanan)

anak-petani-lamno

Dalam sebuah kesempatan beberapa waktu yang lalu, aku melintas di daerah persawahan di wilayah Lamno, Aceh Jaya, sekilas tak ada yang istimewa, hanya hamparan tanaman padi yang sedang menghijau, sama dengan daerah persawahan lainnya. Nyaris tidak aktifitas petani di sawah, hanya ada beberapa petani terlihat sedang membersiahkan rumput di galengan sawah dengan tanaman padi yang menjelang “bunting”. Tiba-tiba aku seperti terpana melihat sesosok bocah yang ku taksir usianya sekitar 7 atau 8 tahunan duduk santai di pinggiran sawah yang sedang menghijau itu sambil menggigit-gigit  sebatang daun nipah yang biasa dipakai orang-orang tua untuk membalut tembakau sebagai pengganti rokok. Sekilas tidak ada yang berbeda dengan bocah itu, tapi begitu kudekati, seperti ada yang “aneh” pada anak tersebut. Tidak seperti anak-anak kampung di Aceh lainnya, bocah ini mirip seperti anak Bule, berkulit putih, bermata biru dan berambut agak pirang,  apalagi didukung dengan jersey tim sepak bola Eropa yang dikenakannya, nggak ada yang menyangka kalau aku sedang berhadapan dengan seorang “anak kampung”. Awalnya aku mengira, bocah itu memang anak Bule yang sedang mengikuti orang tuanya berwisata ke Aceh, tapi perkiraaanku meleset seratus persen, karena ketika kusapa dia dengan bahasa Inggris, anak ini hanya senyum-senyum saja tidak menjawab, dia tetap santai memainkan daun nipah di mulutnya, aku jadi serba salah. Untungnya tak lama kemudian datang seorang pemuda menghampiriku, dia menyapaku dalam bahasa Aceh, sepertinya dia tahu keherananku melihat bocah tadi, “Nyoe keun bule Bang, aneuk petani inoe mantong” (Ini bukan bule Bang, hanya anak petani di sini), jelas pemuda itu, tapi aku belum begitu yakin dengan penjelasannya, beberapa anak sebaya dengan “anak bule” itu kemudian juga datang mendekat, ada perbedaan mencolok antara anak-anak itu dengan bocah tadi.

anak-lamno

Gambar 2, Ada perbedaan mencolok antara “anak bule” ini dengan anak-anak sekampungnya (Doc. FMT)

Tak perlu berlama-lama aku dengan keheranankau, karena aku segera ingat bahwa aku sedang berada di daerah Lamno, yang menurut catatan yang pernah kubaca, di daerah ini memang masih ada beberapa orang keturunan dari Portugis, salah satunya mungkin orang tua dari bocah ini.  Seperti pernah ditulis oleh Basri Daham di Harian Kompas, edisi 8 Juni 1997, sejarah si mata biru di daerah Lamno ini terkait dengan kisaha pelayaran Marco Polo, pelaut Portugis pengeliling dunia yang terkenal itu.  Menurut penuturan para orang tua di daerah tersebut, Kapal Marco Polo pernah singgah beberapa waktu di daerah Lamno ini untuk mengisi perbekalan, namun tidak ada yang bisa menjelaskan apakah si mata biru yang tinggal sekarang ini merupakan keturunan dari Marco Polo dan anak buahnya. Penjelasan yang agak “masuk akal” adalah, adanya sebuah kapal dagang Portugis yang terdampar di daerah Lamno yang merupakan wilayah Kerajaan Meureuhom Daya pada waktu itu. Meski mereka terdampar dengan tidak sengaja, namun pasukan kerjaan Meureuhom Daya menganggap mereka sebagai musuh yang akan menyerang mereka, maka terjadilah pertempuran kecil antara awak kapal dengan pasukan kerajaan, hingga para pelayar Portugal itu menyatakan menyerah tanpa syarat.  Oleh penguasa kerajaan, kemudian mereka diperbolehkan tinggal di perkampungan itu dan belajar bercocok tani, dari situlan kemudian timbul asimilasi antara “pengungsi” Portugis itu dengan masyarakat setempat, dari situlah konon kemudian lahir keturunan berkulit putih dan bermata biru di daerah ini. Penasaran dengan apa yang aku lihat di pinggir sawah itu, aku kemudian mencoba menelisik ke beberapa orang tua di kampung yang terletak di lembah Geuruteeitu, penjelasannya yang kudapat nyaris sama dengan beberapa catatan yang pernah aku baca.Tapi ketika aku bertanya tentang berapa kira-kira komunitas mata biru di daerah ini, tak ada jawaban pasti.  Karena mereka sudah membaur dengan warga lainnya. Dalam satu keluarga misalnya, bisa saja ada satu dua orang yang memiliki ciri fisik mata biru, sementara anggota keluarga lainnya memiliki ciri fisik seperti orang Aceh pada umumnya, jadi memang agak sulit medata jumlah komunitas mereka. Kemudian tidak semua warga keturunan mata biru ini memiliki tanda fisik seperti nenek moyang mereka, hanya sebagian kecil saja yang masih bisa kita lihat memang mirip dengan keturunan bule. Namun apapun catatan sejarah yang menceritakan tentang mereka, Lamno memang menyimpan keunikan yang tidak dimiliki oleh desa-desa lain di Aceh bahkan di Indonesia, sosok-sosok berwajah bule namun kental dengan logat Acehnya.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/masfathan66/ketemu-anak-bule-di-tengah-sawah_5795b71e729373953391f03b

Inspirasi Buat Penyuluh Pertanian Dari Syikdam Hasim Gayo

Catan : Fathan Muhammad Taufiq

Syikdam Hasim Gayo didepan para penyuluh pertanian Aceh Tengah

“Setiap orang punya potensi untuk menjadi motivator, termasuk para penyuluh pertanian, bahkan bagi penyuluh pertanian, menjadi motivator bagi para petani adalah sebuah keharusan karena salah tugas penyuluh pertanian adalah memberikan motivasi kepada petani agar mereka berhasil dalam menjalankan usaha tani mereka” begitu ungkap Syikdam Hasim Gayo ketika berbagi pengalaman dihadapan para penyuluh pertanian dan jajaran Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah, Senin (20/3/2017).

Atas prakarsa dari Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah, Drh. Rahmandi, M Si, motivator tuna netra yang sudah sering tampil di berbagai stasiun televisi nasional itu memang khusus dihadirkan di Aula Dinas Pangan untuk memberikan motivasi kepada para penyuluh pertanian dan jajaran Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah. Kebetulan dalam sminggu terakhir, Syikdam yang pernah tampil dalam acara Kick Andy Show itu sedang berada di Dataran Tinggi Gayo atas undangan Bupati Aceh Tengah, Ir. H. Nasaruddin, MM. Dan berkat bantuan dari pegiat sosial yang juga pemimpin redaksi LintasGayo.co, Khalisuddin, S Pt, akhirnya para penyuluh pertanian yang ada di daerah ini dapat bertatap muka langsung dengan sang motivator luar biasa ini. Dipandu moderator, Fathan Muhammad Taufiq, Syikdam mulai berbagi kisah perjalanan hidupnya sampai menggapai sukses seperti sekarang ini.

Nyaris putus asa dan ingin bunuh diri

Syikdam Hasim Gayo adalah  salah seorang penyandang disabilitas tunanetra yang punya sederet prestasi yang sangat membanggakan baik di tingkat nasional maupun internasional. Putra Gayo kelahiran Medan, 5 Juli 1980 ini sudah melanglang buana ke banyak Negara di Eropa, Afrika, Asia dan Amerika, bahkan tahun 2015 lalu dia sempat diundang oleh Pangeran Edward dari Kerajaan Inggris untuk menyampaikan pidato di hadapan keluarga istana Birmingham.

Lahir sebagai buah hati dari sang ayah Muhammad Hasim (almarhum) berasal dari Gelelungi Kecamatan Pegasing Kabupaten Aceh Tengah dan ibunya Syamsiah yang berasal dari Desa  Daling Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah, Syikdam kecil tumbuh normal seperti anak-anak lainnya. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Jakarta, Sikdam kemudian meneruskan kuliah di Nusa Dua Bali hingga meraih gelar Sarjana Bahasa Inggris dalam usia 21 tahun. Dari kecil dia memang sudah bercita-cita ingin menjadi seorang diplomat, itulah sebabnya dia memilih jurusan bahasa Inggris.

Manusia hanya bisa berencana, tapi hanya Allah jualah yang bisa menentukannya, semua cita-cita Syikdam seakan buyar. Tahun 2010 yang lalu, hanya beberapa saat setelah dia berhasil meraih gelar sarjananya, sebuah musibah dahsyat menimpa dirinya, mobil yang dia tumpangi bersama temannya mengalami kecelakaan hebat yang membuat dia kehilangan indera penglihatannya.

“Hampir seluruh saraf mata saya rusak akibat kecelakaan itu dan sejak saat itu semua berubah. Pandangan mata kiri saya gelap total dan sebelah kanan hanya bisa menandai cahaya gelap atau terang, sampai akhirnya saya tidak bisa melihat sama sekali, saya jadi penyandang tuna netra,” kata anak kesembilan dari 13 bersaudara itu.

Hidupnya tiba-tiba berubah kelam, dia terkurung dalam keadaan yang sama sekali tidak pernah dia inginkan dan tak punya daya untuk mengembalikan semua.

Satu setengah tahun dia terkungkung dalam depresi, stres berat, sampai keinginan bunuh diri sempat terlintas di benaknya,. dia merasa hidupnya tidak lagi berguna, masa depan tak berarti tanpa mata.

“Saya sempat syok berat waktu itu, saya berfikir bahwa hidup dan masa depan saya sudah berakhir dengan hilangnya penglihatan saya, bahkan saya nyaris ingin mengakhiri hidup saya dengan bunuh diri” tuturnya dihadapan ratusan penyuluh pertanian dan jajaran Dinas Pertanian. Spontan kisah perjalanan hidup yang diungkapkan Syikdam, memancing keharuan yang mendalam, beberapa penyuluh dan staf Dinas Pertanian yang hadir disitu, tak mampu menahan air mata mereka.

 

Bangkit berkat motivasi dari Ibu

Hampir setahun Syikdam tenggelam dalam duka dan keputus asaan yang teramat dalam,  dia merasa hidupnya sudah tidak berarti lagi dan cita-citanya tersa kandas ditengah jalan. Namun beruntung, Syikdam memiliki seorang ibu yang luar biasa, sosok perempuan yang sudah melahirkannya itulah yang kemudian terus memberi semangat kepadanya. Sang ibu mengatakan bahwa kebuaan bukanlah akhir dari segalanya, bahkan awal untuk menuju kesuksesan.

“Lihat Syikdam, kamu sebenarnya beruntung, Tuhan hanya mengambil matamu saja. Bandingkan dengan keadaan para penghuni panti dan penyandang disabilitas lainnya, mereka tidak seberuntung itu” ujar Syikdam menirukan kata-kata ibunya.

Berbekal semangat dan motivasi dari sang ibu, Syikdam mulai bangkit, melakukan apa yang sebelumnya pernah dia lakukan, berorganisasi dan terlibat dalam berbagai forum diskusi. Bergaul dengan banyak orang, membuat Syikdam mulai menemukan jati dirinya, dia mulai merasakan bahwa dalam dirinya ada potensi besar untuk maju.

Musibah yang awalnya dia anggap sebagai bencana, dia jadikan tonggak kebangkitan bagi dirinya. Perlahan, berbagai prestasi mulai dia tunjukkan, dan itu membuat kepercayaan dirinya mulai tumbuh kembali. Berbagai catatan prestasi kemudian mulai “menghisai” hidupnya, bukan hanya di tingkat nasional, bahkan di tingkat internasionalpun, nama Syikdam mulai “berkibar”. Berbagai negara pernah dia jelajahi, mulai dari daratan Eropa sampai Amerika, dari penjuru Asia sampai ke Afrika dan Australia.

Berbagai catatan prestasi telah ditorehkannya, diantaranya tahun 2013 dia mewakili Indonesia di Konferensi Global Pemuda Penyandang Disabilitas di Kenya, Afrika. Tahun itu dia juga membentuk Disabilities Youth Centre Indonesia dan menjadi ketuanya. Lembaga swadaya beranggotakan ribuan penyandang disabilitas usia 12-30 tahun dari Aceh sampai Papua itu dibentuk untuk membela kepentingan kaum difabel.

Tahun 2014, bulan Februari dia mendapat International Award for Young People dari Pangeran Philip dan pada Agustus menjadi salah satu pembicara di International Youth Day Conference, dan pada Oktober menjadi pembicara di Indonesian Youth Conference.

Bulan Juli 2015, dia mengikuti International Study Program 2015 di Korea Selatan dan dua kali berkesempatan menyampaikan pidato tentang disabilitas di hadapan parlemen Korea Selatan.

Pada November 2015, dia berpidato di depan Keluarga Kerajaan Inggris. Tahun ini dia juga mewakili pemuda Indonesia dalam International Conference of Family Planning 2015 di Nusa Dua, Bali.

Selain itu, sampai dengan saat ini, dia juga tercatat sebagai salah seorang pengajar di Sekolah Menengah Atas Adria Pratama Mulya, Tangerang. Namun semua prestasi itu tidak lantas membuat Syikdam lupa diri, disela-sela kesibukannya yang sangat padat, dia masih menyempatkan diri untuk mengajar bahasa Ingrris bagi anak-anak tidak mampu di lingkungan tempat tinggalnya.

Sambil beraktifitas, Syikdam juga tidak pernah berhenti untuk memperjuangkan hak-hak para penyandang disabilitas, dia ingin para difabel juga diberi kesempatan yang sama dengan orang-orang normal lainnya seperti kesempatan untuk berkarir sebagai pegawai negeri, pegawai swasta maupun berkarir di dunia politik. Dia merasa bahwa sampai saat ini diskriminasi terhadap para penyandang difabilitas, masih terlihat kental dimana-mana, dia juga menganggap bahwa pemerintah belum berpihak kepada kaum difabel, ini yang membuat dia mersa prihatin.

 

Berbagi bagi sesama

Yakin dengan potensi yang ada dalam dirinya, Syikdam mulai sering di undang sebagai motivator di berbagai tempat. Baginya, dengan menjadi motivator seperti inilah, dia bisa berbagi bagi sesame, karena menurutnya hidup seseorang akan bermakna jika mampu memberi manfaat bagia orang lain. Dan itulah yang dia ungkapkan ketika berbicara dihadapan ratusan penyuluh pertanian di daerah asalnya, dia ingin para penyuluh di Gayo juga bisa bangkit sehingga mampu membawa kehidupan petani semakin sejahtera. Untuk bisa menjadi motivator yang baik,menurutnya  seorang penyuluh setidaknya harus memiliki lima kemampuan

“Penyuluh pertanian akan bisa menjadi motivator yang baik bagi petani jika dia menguasai materi dan pengetahuan yang mumpuni tentang pertanian, terus belajar meningkatkan kapasitas diri termasuk belajar speak learning, banyak membaca, bersikap santun dan selalu mensyukuri kelebihan yang diberikan Allah” ungkap penerima Anugrah SCTV Award 2016 dan Gantari Award 2017 itu. Selain itu, seorang penyuluh juga harus memiliki semangat tinggi serta keikhlasan untuk berbuat, karena hanya dengan bekerja ikhlas, semua yang kita kerjakan akan berbuah kebaikan, sambungnya.

Pertemuan selama hampir tiga jam itupun berlalu tanpa terasa, karena memang di”setting” dalam suasana santai, apalagi gaya penyampaian Syikdam yang menarik diselingi humor-humor ringan dalam bahasa Gayo, membuat para penyuluh pertanian itu tak ingin beranjak sebelum acara usai.

 

 

 

Untung Ganda, Jadikan Tanaman Pisang Sebagai Pelindung Kopi

Catatan : Fathan Muhammad Taufiq

Tanaman Pisang sebagai Naungan Kopi 2

Tanaman kopi khususnya kopi arabika menginginkan cahaya matahari tidak penuh dengan penyinaran teratur. Intensitas penyinaran matahari yang tidak terkendali, dapat menyebabkan tanaman kopi lebih mengalami pembungaan tidak serentak dan menyebabkan tanaman cepat tua dan rusak serta produktivitasnya rendah. Itulah sebabnya tanaman kopi membutuhkan pohon penaung yang bisa mengatur intensitas cahaya matahari cocok yang dikehendaki tanaman kopi. Namun demikian harus dipastikan bahwa pohon naungan tidak sampai menjadi pesaing bagi tanaman kopi dalam penyerapan nutrisi atau hara dari dalam tanah, untuk itulah perlu langkah selektif untuk memilih tanaman yang cocok sebagai pohon penaung kopi.

Pada fase pertumbuhan (umur 0 sampai 18 bulan), tanaman kopi tidak begitu membutuhkan naungan, karena pada fase tersebut tanaman kopi justru membutuhkan intensitas penyinaran matahari yang cukup agar pertumbuhannya bisa optimal. Namun pada saat memasuki fase produksi (umur 18 bulan ke atas), tanaman kopi mulai membutuhkan naungan yang memadai, karena dalam fase tersebut tanaman kopi hanya membutuhkan enyinaran terbatas agar pembungaan bisa terjadi serentak dan seluruh bunga bisa berkembang menjadi buah. Dalam fase berbuah, tanaman kopi juga hanya membutuhkan intensitas penyinaran terbatas agar dapat dicapai keseragaman dalam proses pemasakan buah, penyinaran berlebihan dapat menyebabkan buah masak lebih cepat tapi tingkat kematangannya tidak sempurna. Disinilah dibutuhkan penanaman pohon naungan agar produktivitas kopi dapat dipertahankan.

 

Fungsi naungan

Tanaman pelindung atau naungan sangat dibutuhkan tanaman kopi, terutamma pada saat mulai memasuki fase produksi, ada beberapa fungsi atau manfaat dari tanaman pelindung ini, antara lain:

  • Mengatur intensitas penyinaran sesuai kebutuhan tanaman kopi, sehingga pembungaan, pembuahan dan pematangan buah bisa seragam dan kualitas biji kopi yang dihasilkan dapat dipertahankan
  • Mengurangi penguapan segera hingga humus tidak gampang hilang.
  • Mengurangi berlangsungnya erosi terlebih pada tempat miring.
  • Menghindar embun upas ( frost ) pada daerah-daerah tinggi dan mengurangi potensi serangan hama dan penyakit tanaman.
  • Sebagai sumber bahan organik untuk memperbaiki struktur tanah.
  • Bisa menghambatt perkembangan gulma.

 

Syarat tanaman yang cocok sebagai pohon pelindung/naungan kopi

Tidak semua tanaman dapat dijadikan pelindung atau naungan pada tanaman kopi, tanaman yang kan dijadikan pelindung pada tanaman kopi setidaknya harus memiliki persyaratan sebagai berikut :

  • Tanaman mudah tumbuh; pohonnya tinggi dan bertajuk rindang;
  • Pertumbuhannya cepat ;
  • Banyak menghasilkan daun dan tahan pemangkasan;
  • Daunnya cepat membusuk;
  • Perakaran dalam;
  • Batang dan cabang keras;
  • Tidak mudah terserang hama dan penyakit ;
  • Tajuk dan akar tidak mengganggu tanaman kopi;
  • Bijinya tidak banyak dan tidak tersebar sehingga tidak mudah tumbuh menjadi gulma Leucaena sp;
  • Daunnya bisa menjadi pakan ternak dan kayunya untuk kayu bakar,
  • Tidak menggugurkan daun , terutama pada musim kemarau;
  • Lebih diutamakan dati jenis leguminosa,
  • Mudah diatur secara periodik agar tidak menghambat pembungaan.

Jenis Tanaman yang cocok sebagai pohon pelindung tanaman kopi, seperti anjuran para pakar kopi antara lain :

Lamtoro , jenis Lamtoro yang digunakan sebaiknya jenis yang sedikit menghasilkan biji seperti Leucaena pulverulenta dan lamtoro hibrida klon L2 atau lamtoro yang tahan terhadap akar putih yaitu L. leucocephala sebagai batang bawah. Sambungan antara L.lucocephala sebagai batang bawah dengan L2 sebagai batang atas merupakan tanaman lamtoro yang paling baik saat ini.

Sengon laut ( Albazia falcate), saat ini sengon laut merupakan pohon pelndung yang paling baik, terutama di dataran tingi dan daerah kering. Tanaman sengon laut ini baru dapat menaungi setelah berumur 3 tahun.

Namun demikian jenis lamtoro yang resistan terhadap jamur akar serta bibit sengon, agak sulit didapatkan oleh petani kopi di Datran Tinggi Gayo yang memiliki hamparan kebun kopi arabika terluas ini..

 

Pohon Pisang sebagai Alternatif Tanaman Pelindung Kopi

Sulitnya mendapatkan bibit pohon naungan yang cocok untuk tanaman kopi, membuat para petani mencari alternatif tanaman pelindung yang mudah didapatkan di sekitar lahan kebun kopi. Seperti yang dilakukan oleh beberapa petani di wilayah Atu Lintang, Aceh Tengah ini, mereka mencoba menanam pisang sebagai pohon pelindung pada tanaman kopi mereka. Pohon pisang itu ditanam berjajar di sela-sela tanaman kopi dengan jarak tanam sekitar 6 x 6 meter. Dari pengamatan fisik yang dilakukan oleh seorang penyuluh pertanian, Masna Manurung, pemanfaatan tanaman pisang sebagai pohon pelindung kopi, menurutnya cukup baik, karena tanaman kopi yang ada dapat tumbuh dengan baik.

Lebih lanjut Masna menjelaskan, pemanfaatan tanaman pisang sebagai pelindung kopi cukup baik, karena selain berfungsi sebagai pelindung, tanaman pisang juga bisa menjaga kelembaban tanah pada saat terjadi musim kemarau. Selain itu limbah tanaman pisang juga bisa menjadi sumber pupuk organic yang baik bagi tanaman kopi. Dari segi ekonomis, menurut Masna, penggunaan tanaman pisang sebagai pohon pelindung juga memberikan keuntungan ganda bagi petani, selain dari hasil kopi, mereka juga dapat memperoleh penghasilan tambahan dari buah pisang yang saat ini prospek ekonominya juga cukup baik. Perakaran tanaman pisang yang dangkal, juga tidak berpotensi mengganggu absorbsi hara oleh tanaman kopi.

Meski demikian, menurut Masna, pertumbuhan anakan tanaman pisang harus dibatasi supaya tidak mengganggu serapan hara oleh tanaman kopi, menurut penyuluh penyandang gelar S1 Univaersitas Syiah Kuala dan S2 dari Universitas Barwijaya ini, setiap rumpun kopi cukup dipertahankan 2 anakan saja. Anakan yang terlalu banyak dikhawatirkan justru akan mengganggu pertumbuhan tanaman kopi.

Melihat pertumbuhan dan perkembangan tanaman kopi yang diberi naungan tanaman pisang cukup baik, Masna berpendapat bahwa tanaman ini bisa menjadi alternatif pohon pelindung kopi. Namun dia belum berani merekomendasikan kepada petani untuk menanam pisang sebagai pelindung berupa tanaman, karena masih butuh waktu untuk mengamati dan meneliti untung ruginya menggunakan tanaman pisang sebagai tanaman pelindung kopi.

“Masih butuh pengamatan dan penelitian sekitar 3 – 4 tahun lagi sebelum kita mrekomendasikan kepada petani, tapi sebagai alternatif, tidak ada salahnya kalau petani lainnya juga ikut mencoba” ungkap penyuluh yang juga aktif di komunitas Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo (MPKG) ini.

Meski demikian, apa yang telah dilakukan para petani di Atu Lintang ini perlu mendapatkan apresiasi dan tindak lanjut dari pihak-pihak terkait, penelitian lanjutan oleh Dinas Pertanian, Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi dan pihak terkait lainnya, sangat dibutuhkan oleh para petani, supaya mereka mendapat kepastian apakah menjadikan tanaman pisang sebagai pohon pelindung kopi ini baik atau tidak. Meskipung secara kasat mata, pemanfaatan tanaman pisang sebagai pohon pelindung kopi telah terbukti efektif dan memberikan keuntungan ganda kepada petani.

 

 

 

 

 

 

Pengalaman Tak Terlupakan, Tidur Di Hutan”Ditemani” Harimau

Catatan Pengalaman Nyata oleh : Fathan Muhammad Taufiq

gambar-ilustrasi-harimau

Gambar Ilustrasi Harimau di Hutan

Tamat dari SMA tahun 1986 yan lalu, sebenarnya aku ingin bisa kuliah di universitas negeri di luar kota seperti teman-teanku, tapi kondisi ekonomi orang tuaku pada saat itu sangat tidak memungkinkan untuk membiayai kuliahku, hasil dari kebun belum seberapa karena memang kami belum lama panda dan membuka kebun di daerah ini, sementara empat adikku juga masih butuh biaya sekolah. Sebagai anak tertua aku berlapang dada untuk “mengalahkan” egoku, aku lebih memilih untuk membantu kedua orang tuaku di kebun daripada berkhayal menjadi mahasiswa di perguruan tinggi favorit yang tentu akan sangat membebani orang tuaku.

Hari-hariku kemudian kujalani di kebun yang memang saat itu masih membutuhkan perawatan ekstra, batang-batang kopi yang masih kecil itu perlu dirawat dengan baik agar nanti bisa menghasilkan buah yang banyak, sementara menunggu batang kopi itu berbuah, aku juga mencoba menanam beberapa komoditi palawija dan sayuran seperti jagung, kacang merah dan tanaman semusim lainnya yang cepat berproduksi untuk mememenuhi “kebutuhan dapur” keluarga orang tuaku.

Sudah lebih enam bulan aku berkutat di seputaran kebun orang tuaku, aku nyaris sudah melupakan ijazah SMA yang kuraih dengan susah payah itu, kebunpun sudah nampak bersih dan batang-batang kopi mulai tumbuh dengan baik. Seorang tetanggaku bernama Subandi mengajakku untuk “mencari uang” dengan bekerja di hutan menebang dan mengolah kayu menjadi bahan seperti papan, kaso, reng dan kayu olahan lainnya, kebetulan pada waktu itu hutan masih sangat lebat dan kayu-kayu berkualitas masih mudah didapatkan. Karena aku juga sangat membutuhkan uang, akupun menyambut ajakan Subandi, kebetulan dia memegang satu unit chain saw milik temannya yang ada di kota Takengon.

Kami memilih “tempat operasi” di kawasan hutan di daerah Arul Item, yang waktu itu masih merupakan hutan lebat dengan berbagai pepohonan besar, sehingga kamileluasa untuk memilih pohon mana yang bisa ditebang dan di “olah”, sudah ada beberapa operator gergaji mesin yang beroperasi disitu, waktu itu tepatnya di akhir tahun 1986, peraturan tentang penebangan dan pengolahan kayu hutan belum seketat sekarang. Kami memutuskan untuk mendirikan gubuk darurat yang sering disebut sebagai kem (camp) berupa bangunan sederhana terdiri dari lantai papan yang dibuat agak tinggi, diberi dinding di bagian belakang serta atap dari plastik hitam, sementara disamping kanan kiri serta depan sama sekali terbuka. Kem kami berada di pinggi sungai kecil yang berada di tengah belantara Arul Item yang sangat sepi, jauh dari kem teman-teman lain sesama “perambah hutan”, kami memilih tempat itu karena kayu-kayu disitu besar-besar dan bagus-bagus.

Usai mendirikan kem, kamipun segera memulai aktifitas kami, beberapa pohon besar sudah berhasil kami tumbangkan, itu kami lakukan agar besoknya kami tinggal membelah dan mengolah kayu itu menjadi bahan yang bisa langsung kami jual kepada “toke” kayu. Tapi rupanya keberuntungan belum berpihak kepada kami, baru bisa mengolah beberapa meter kubik kayu, gergaji mesin yang kami operasikan mulai “mengulah”, oli sampingnya bocor dan putaran rantainya menjadi macet, Subandi yang agak tau tentang mesin itu mencoba mengutak-atik sarana operasional kami itu, tapi seharian memperbaiki, mesin itu tak kunjung normal.

“Sepertinya ada alat yang harus diganti, aku akan mencarinya ke Takengon besok”  kata Subandi setengah menyerah.

“Pergilah, aku biar nunggu disini saja, tapi usahakan sore balik kesini” sahutku.

Paginya Subandi berangkat membawa chain saw nya menuju kota Takengon yang berjarak kurang lebih 55 kilometer dari lokasi kerja kami, dengan kondisi jalan yang masih parah, waktu itu nyaris tidak ada kendaraan lewat, kalaupun ada hanya truk-truk pengangkut kayu, itupun harus “melawan” jalan becek berlumpur yang sewaktu-waktu bisa membuat kendaraan itu terpaksa “menginap” di tengah jalan. Kebetulan, ketika Subandi sampai di pinggir jalan, ada truk pengangkut kayu yang akan membawa kayu ke Takengon, Subandi akhirnya bisa menumpang truk itu menuju Takengon.

Sendirian di hutan memuat aku merasa bosan juga, aku mencoba mencari “kesibukan” dengan menangkap ikan-ikan kecil di sungai yang ada di depan kem kami, lumayan juga buat lauk makan siangku. Hari sudah menjelang malam tapi Subandi belum juga kembali, rasanya aku ingin meninggalkan kem untuk “menumpang” di kem teman lain yang letaknya cukup jauh, tapi aku kasian sama Subandi, jangan-jangan dia kembali agak malam nanti, akhirnya kuputuskan untuk menunggu saja di kem. Hari semakin gelap, aku mengumpulkan potongan-potongan kayu dan menyalakan api untuk menghangatkan badan, sambil menunggu temanku akupun menikmati makan malam dengan lauk ikan kecil hasil tangkapanku tadi, tidak lupa aku menyisakan nasi dan ikan itu untuk temanku.

Malam semakin larut, tapi tidak ada tanda-tanda Subandi kembali ke kem, akhirnya setelah menjalankan kewajiban sholat Isya, akupun merebahkan badanku di lantai kayu kem, api yang semakin membesar membuat tubuhku hangat dan rasa kantuk yang sudah tidak bisa kutahan membawaku terlelap sendirian di tengah rimba itu. Aku terbangun ketika aku “kebelet” buang air kecil.

Tapi betapa terkejutnya aku ketika kubuka mataku, ada pemandangan “menyeramkan” di depan mataku, kulihat didekat perapian ada seekor binatang besar berkulit loreng “duduk” membelakangi api unggun, jaraknya denganku sangat dekat hanya sekitar 2 atau 3 meter saja. Aku menahan nafasku, detak jantungku seakan berhenti melihat pemandangan itu, seekor harimau besar berada di dekatku, sementara aku hanya sendirian di tengah belantara itu, aku memang tidak bisa melihat muka harimau itu karena dia membelakangiku, tapi aku dapat melihat tubuh besarnya yang dibalut kulit berwarna kekuningan dengan loreng hitam itu, kuperhatikan ekornya bergerak-gerak seakan sedang “mengipasi” api agar tetap menyala.

Rasa kebeletku hilang, tubuhku menggigil seperti terserang malaria menahan rasa takut yang amat sangat, aku nyaris tidak mampu menggerakkan badanku, perlahan tanpa menimbulkan bunyi, kutarik kain sarung yang menjadi selimutku untuk menutup wajahku. Kalau saja saat itu ada yang melihat wajahku pasti wajahku sangat pucat seperti kertas, meski berada di dekat api tapi tubuhku terasa dingin. Aku coba mengatur nafasku, dari balik kain sarung itu aku tetap mengawasi gerak gerik sang “raja rimba’ itu, binatang buas itu masih dalam posisi semula. Dalam kesendirian di tengah hutan itu aku benar-benar sudah pasrah, perlahan mulutku komat-kamit memanjatkan do’a mohon keselamatan kepada sang Maha Kuasa, karena aku yakin hanya Dia yang bisa menyelamatku dari semua mara bahaya. Seluruh syarafku terasa sangat tegang, keringat dingin mulai membasahi punggungku, tapi ketegangan itu belum juga berlalu, binatang besar menyeramkan itu belum beranjak dari dekatku, meski aku hanya melihat punggung dan ekornya, tapi sudah membuatku sangat tercekam, aku hanya berharap semoga malam segera berlalu dan si “mbah” segera meninggalkan tempat itu.

Cukup lama aku dalam ketercekaman dan ketegangan itu, aku tidak bisa mengukurnya dengan jam karena aku memang tidak punya jam, ada keinginan untuk lari, tapi aku fikir berlari di kegelapan hutan bukanlah hal yang mudah bahkan bisa membuatku celaka, aku juga tidak bisa berteriak minta tolong, karena itu akan sia-sia saja, tidak akan ada yang mendengar teriakanku. Yang bisa kulakukan hanyalah diam tanpa bergerak, karena sedikit gerakan bisa saja mengejutkan sang raja dan kemungkinan terburuk bisa saja terjadi.

Keteganganku  mulai mengendur ketika sayup sayup mulai kudengar suara ayam hutan bersautan, “Sudah menjelang pagi” pikirku, kuperhatikan sang harimau “bangkit” dari “duduknya”, dan tanpa menoleh ke belakang dia meninggalkan perapian didepan kem, mungkin dia tau, aku bisa pingsan kalo sempat melihat wajah seramnya.  Aku bernafas lega, tapi aku belum berani bangkit dari pembaringanku, aku masih khawatir kalau-kalau sang raja kembali lagi. Mataku masih terus mengawasi kepergian harimau itu sampai dia lenyap ditelan kegelapan. Aku mencubit pipiku, terasa sakit, berarti aku tidak sedang bermimpi, apa yang aku kulihat memang benar-benar nyata. Nafasku berangsur normal, detak jantungku yang sedari tadi seakan berhenti serasa berdenyut kembali, apalagi suasana hutan mulai riuh dengan suara siamang yang besahutan, remang-remang fajar juga sudah mulai menerobos pepohonan.

Aku memberanikan diri untuk bangkit dari pembaringan, masih dengan perasaan was-was kulangkahkan kakiku menuju sungai untuk membasuh muka dan mengambil air wudhu. Selesai menunaikan sholat shubuh, perasaanku menjadi agak tenang, tidak lupa kupanjatkan rasa syukurku kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang telah melindungiku dari mara bahaya. Aku mulai berfikir, mungkin saja kehadiran sang raja rimba tadi memang bukan untuk mengganggu atau mencelakakanku, tapi dia hanya “menemaniku” yang sendirian di tengah belantara itu. Tapi tidur sendirian di tengah rimba ditemani seekor binatang besar yang menyeramkan itu tentu bukan pengalaman yang menyenangkan, tapi aku tetap bersyukur tidak terjadi sesuatu yang buruk pada diriku.

Sinar mentari mulai menerobos sela-sela dedaunan, kegelapan telah sirna berganti semburat pagi, kicau burung di atas pepohonan seakan memecah kesunyian di tengah belantara itu. Aku memasang periuk untuk memasak air, secangkir kopi sepertinya akan sedikit menghangatkan tubuhku yang seakan membeku ini. Benar saja, setelah menyeruput beberapa teguk kopi, badanku terasa agak hangat, tapi sejujurnya aku belum bisa menghilangkan keteganganku sepenuhnya.

Suasana di hutan semakin terang, hanya satu tekadku, aku harus segera meninggalkan hutan itu, aku tidak ingin kejadian semalam terulang lagi, kubungkus beberapa pakaianku dengan kain sarung kemudian kuikat menyerupai “ransel’. Baru saja aku selesai berkemas, Subandi muncul sambil cengengesan, aku merasa kesal melihatnya,

“Sorry kawan, semalam aku nggak bisa pulang, nggak ada kendaraan lewat” ocehnya tanpa rasa bersalah, aku hanya diam saja.

“Lho mukamu kok pucat sekali” dia seperti agak terkejut begitu melihatku dari dekat

“Ya, aku seperti kurang enak badan” jawabku menyembunyikan apa yang sebenarnya telah terjadi “Kamu cari penggantiku dulu sementara, aku mau pulang, nanti kalo aku sudah sehat aku balik lagi kesini”

Subandi tidak bisa menahanku, akupun segera meninggalkan tempat yang “tidak mengenakkan” itu, butuh waktu sekitar setengah jam untuk mencapai pinggir jalan, kebetulan sebuah truk yang akan mengambil kayu melintas, akupun bisa menumpang truk itu sampai rumah.

Pengalaman “tidak menyenangkan” itu cukup membuatku trauma untuk kembali bekerja di tengah hutan, janjiku untuk kembali bekerja dengan Subandi hanya alasanku saja, aku benar-benar sudah kapok bertemu dengan “penguasa” rimba itu. Meski sedikitpun dia tidak mengganggu atau mencelakakanku, tapi itu sudah cukup menjadi “warning” bagiku untuk tidak mengusik, mengganggu atau bahkan merusak habitat sang raja rimba.

Sejak saat itu aku tidak pernah kembali lagi untuk “mengusik” hutan dan pepohonannya, aku lebih memilih untuk kembali “merantau” ke kota untuk mencoba “merubah” nasibku. Hanya bermodal ijazah SMA, memang tidak mudah untuk mendapatkan pekerjaan yang “layak”, tapi aku mencoba menjalaninya dengan tabah, berbagai pekerjaan “kasar” pernah kujalani, mulai dari pekerja di proyek jalan dan drainase, petugas cleaning service tidak tetap di lapangan tennis, berjualan kain kain keliling sampai menjadi pekerja di pabrik penggilingan padi sampai akhirnya Tuhan “membukakan” pintu rejeki bagiku, seperti lolos dari “lubang jarum”, dengan bermodal Ijazah SMA, akhirnya aku bisa di angkat menjadi pegawai negeri. Meski pengalaman menegangkan itu telah berlalu hampir tiga puluh tahun, tapi sampai sekarang aku measih tetap selalu mengingatnya, apalagi sekarang ada sinetron di tivi yang menyajikan cerita tentang harimau, membuatku selalu teringat pengalaman “tak menyenangkan” yang tidak terlupakan itu.