Gaya “Jingklet Gaki” Pak Gubernur, Ternyata Mirip Gaya “Jadul”ku

Lipat Kaki gubernur

Baru saja dilantik 5 Juli 2017 lalu, pasangan Gubernur – Wakil Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf – Nova Iriansyah sudah membuat “kejutan”. Bukan kejutan dalam kebijakan pemerintahan provinsi yang akan mereka jalankan kedepan, juga bukan statemen-statemen mengejutkan. Tapi “kejutan” itu berupa foto dengan gaya “unik”, yaitu berdiri sambil melipat atau menekuk salah satu kaki.

Kontan saja “gaya” nyentrik yang dalam bahasa aceh disebut “Jingklet Gaki” dari pasangan gubernur dan wakil gubernur ini langsung jadi viral di media sosial. Berbagai tanggapan muncul dari pengguna media social, mulai  dari yang menganggap itu biasa-biasa-saja, sampai yang menganggap itu gaya “lebay” yang pantas dilakukan oleh pejabat. Namun apapun pendapat pengguna media social, gaya lipat kaki sang gubernur dan wakilnya ini, seperti bisa mengobati kejenuhan hingar bingar politik pilkada. Setidaknya orang akan tersenyuk ketika melihat sang gubernur dan wakilnya tampil dengan pose agak nyeleneh seperti itu.

Saat yang lain disibukkan dengan komentar tentang gaya foto sanga gubernur, aku justru lagi mengernyitkan dahi mengingat sesuatu. Dalam benakku, teringat bahwa gaya lipat kaki seperti itu bukanlah hal baru, karena jauh sebelumnya sepertinya aku sudah pernah melakukannya. Ketimbang penasaran, langsung saja kubongkar album foto yang ada di lemari, satu persatu foto “jadul” kuperhatikan, sampai akhirnya aku menemukan 3 lembar foto lawas yang warnanya sudah agak pudar dan kusam.

Tak ada yang istimewa dari ketiga foto yang kubuat pada tahun 1987 dan tahun 2001 lalu di tempat yang brbeda. Tapi begitu kuperhatikan foto itu, ternyata gaya kakiku dalam foto itu, mirip-mirip dengan gaya Pak Irwandi dan Pak Nova, aku jadi senyum-senyum sendiri,

“Lho pak Gubernur dan pak Wagub itu meniru gayaku to, hehe” gumanku dalam hati.

lipat kaki jadul

Kembali kuperhatikan foto pertama yang kubuat pada tahun 1987 atau tiga puluh tahun yang lalu, foto dengan latar belakang dinding tembok berwarna bitu itu menampilkan wajahku yang masih terlihat “culun”. Tapi kuingat-ingat waktu itu, aku tanpa sengaja melipat salah satu kakiku saat kamera yang dipegang temanku membidikku, jadilah foto yang belakangan kuanggap “fenomanal” karena gayaku sudah “ditiru” oleh orang-orang penting, jadi senyum-senyum sendiri aku saat memandangi foto jadulku itu.

Difoto kedua dan ketiga, mengambil setting sama yaitu Candi Borobudur yang kubuat pada saat aku mengunjungi tempat itu tahun 2001 yang lalu. Begitu kuperhatikan, ternyata gaya kakiku dalam foto itu juga gaya “jingklet gaki”, aku kembali senyum-senyum sendiri, gayaku enam belas tahun lalu kini menjadi tren.

Tak bermaksud membandingkan diriku dengan pak Gubernur dan wakilnya, tapi ketika foto jadulku ku upload ke media social, ternyata ada kemiripan gayaku 30  dan 16 tahun lalu itu dengan gaya pemimpin Aceh ini, hehe, lagi-lagi aku cuma bisa “mesam-mesem” sendiri. Logikanya, kalau yang melakukan belakangan itu berarti meniru, tapi aku tak lantas ke”pede”an bahwa gayaku sudah di”jiplak” oleh dua pejabat penting di Aceh ini, tentu semua hanya sebuah kebetulan. Dan aku yakin beliau berdua bukan “nyontek” gayaku, karena pasati mereka juga belum pernah melihat fotoku sebelumnya.

Karena kau yakin bahwa gaya “nyentrik” Pak Irwandi dan Pak Nova itu gaya spontanitas yang pasti tidak direncanakan sebelumnya, apalagi direkayasa. Sama persis dengan yang terjadi pada foto jadulku, aku melipat kaki juga secara spontan, tanpa rencana sebelumnya dan nggak ada yang mengarahkan mesti ber”gaya” seperti itu. Kalo kemudian ternyata gayaku jadi mirip sama dengan gaya pak gubernur dan wagubnya, itu juga pasti bagian dari sebuah kebetulan, jadi nggak usah dipikiri jauh-jauh. Kalaupun kemudian kutulis di blog ini, ini hanya bagian dari keisenganku saja, nggak perlu ditanggapi serius, hehehe.

Refleksi Akhir Ramadhanku

Diatas awan

Saat anganku menembus batas atmosfer

Melintasi gumpalan stratus, cumulus dan nimbus

Bahkan melampaui cumulonimbus

Tapi begitu sulit kutembus sidratil muntahaMU

Karna aku tak tau

Sudah kugapaikah rahmahMu di sepuluh hari pertama ramadhanMu

Dan sudah kudapatkah maghfirahMu di pertengahan bulan muliaMu

Tapi aku masih terus berharp itkun minannarMu di penghujung  bulan ampunanMu

Yang kubisa lakukan hanyalah

Berharap jerihku menunduk ditikar sujud Engkau terima

Dahagaku sampai menjelang senja Engkau terima

Sedikit rejeki yang aku bagikan juga Engkau terima

Karena kusadar penuh

Jiwaku masih tak bersih

Ikhlasku masih berbalut riya’

Puasaku masih berbalut nafsu dunia

Shalatku masih berbalut ketidak khusyukan

Infak dan sedekahku masih berbalut kebakhilan

Tapi aku tetap berharap

Do’a- do’aku Engkau perkenankan

Meski terlalu musykil aku berharap pahalaMu

Namun ampunanMu tetap paling kudamba

Meski tak layak aku ke surgaMu

Karena sudah berkarat dosa-dosaku

Tapi tak sanggup kutahan panasnnya nerakaMu

Hanya ampunanMu yang mampu selamatkanku

Dari pedihnya azab-azabMu

Kota Dingin Takengon, 27 Ramdhan 1438 H

 

 

Pantau Kelayakan Daging Megang, Distan Turunkan Petugas Kier Master

Liputan : Fathan Muhammad Taufiq

drh Bahrawati, Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan

drh. Bahrawati, Kabid. Peternakan dan Kesehatan Hewan

Dua hari menjelang datangnya hari raya Idul Fitri atau yang sering disebut hari Megang, volume penyembelihan hewan ternak khususnya kerbau dan sapi di kabupaten Aceh Tengah diprediksi akan mengalami peningkatan signifikan dibandingkan dengan hari-hari biasa. Ini terkait dengan tingginya permintaan daging dari masyarakat untuk menyambut datangnya hari lebaran pada tahun ini, dan hal tersebut sudah biasa terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan jumlah ternak yang dipotong dan dipasarkan di berbagai tempat, bukan hanya di pasar/pajak daging, membuat instansi terkait harus melakukan pengawasan ekstra terhadap penjualan daging tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi konsumen dari kemungkinan tertular penyakit akibat mengkonsumsi daging yang berasal dari hewan yang sakit dan memastikan bahwa semua daging yang akan dijual kepada konsumen telah melalui pemeriksaan kesehatan dan keamanan sesuai standar yang berlaku.

Untuk mengantisipasi kemungkinan tersebut, Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah yang membawahi Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, selama 2 hari yaitu Jum’at dan Sabtu (23-24/6/2017) besok akan menurunkan Petugas Kier Master untuk melakukan pemeriksaan hewan potong dan penjualan daging dibeberapa titik penjualan baik diseputaran kota Takengon maupun di semua ibukota kecamatan. Keberadaan petugas kier tersebut adalah untuk memastikan bahwa daging yang dijual oleh para pedagang dalam kondisi layak dan aman dikonsumsi serta memenuhi syarat ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal)

Menurut Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, drh. Bahrawati, pihaknya sudah menyiapkan 16 petugas untuk melakukan pemantauan dan pemeriksaan di Rumah Potong Hewan (RPH) maupun  tempat penyembelihan ternak lainnya dan semua lokasi yang biasa dijadikan tempat penjualan daging megang

“Seperti tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini kami juga kembali menurunkan petugas kier master untuk melakukan pemeriksaan di semua tempat pemotongan maupun tempat penjualan daging, baik di seputaran kota Takengon maupun di semua kecamatan dalam kabupaten Aceh Tengah, karena pada hari megang, lokasi pemotongan hewan dan penjulanan daging menyebar di semua wilayah, jadi kami harus melakukan pemeriksaan ekstra ke semua lokasi” ungkap Bahrawati usia memberikan arahan kepada para petugas kier.

Lebih lanjut Bahra menyatakan bahwa pemeriksaan ini bukan semata kegiatan rutin menjelang hari datangnya hari raya dimana tingkat konsumsi daging mengalami peningkatan, tapi sudah merupakan amanah yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya,

“Mengacu kepada Undang-undang Nomor 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan serta Peraturan lainnya yang terkait dengan persyaratan pemotongan hewan ternak dan standar mutu maupun kemanan pangan daging, setiap aktifitas pemotongan hewan ternak dan penjualan daging kepada masyarakat umum, harus melalui pemeriksaan terlebih dahulu, jika hewan atau daging tersebut menurut penilaian kami layak dan aman bagi konsumen, baru kami berikan ijin untuk dijual” jelas Bahra.

Untuk menjamin bahwa hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh para petugas benar-benar valid dan dapat dipertanggung jawabkan, menurut Bahra, pihaknya hanya menurunkan petugas-petugas yang sudah berpengalaman dan memiliki pengetahuan yang memadai tentang kesehatan hewan dan standar kelayakan daging konsumsi, serta dibekali dengan peralatan lengkap untuk melakukan pemeriksaan.

Meski sudah menjadi tanggung jawab pihaknya, Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan ini tetap berharap kerjasama dari pihak pedagang daging untuk tetap mematuhi semua ketentuan yang berlaku. Namun jika para petugas menemukan hewan berpenyakit menular yang dipotong secara illegal atau daging yang tidak memenuhi standar, pihaknya tetap akan melakukan tindakan tegas,

“Kami berharap kesadaran para pedagang daging untuk mematuhi ketentuan yang erlaku, namun jika petugas kami menemukan hewan potong yang tidak sehat atau berpenyakit menular atau daging yang tidak memenuhi standar kelayakan konsumsi, kami akan mengambil tindakan tegas, yaitu melakukan penyitaan dan pemusnahan, ini semata-mata kami lakukan untuk melindungi keselamatan masayarakat” pungkasnya.

(Cerpen) Nestapa Di Ujung Ramadhan

borgol

Oleh : Fathan Muhammad Taufiq

Seperti tahun-tahun sebelumnya, bulan Ramadhan tahun ini, Mu’in terlihat super sibuk, bukan dipadatkan oleh kegiatan ibadah di bulan suci, tapi malah disibukkan dengan kegiatan mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan lebaran idul fitri tahun ini, pengeluaran “ekstra” juga sudah dia persiapkan jauh-jauh hari, karena dia tidak ingin kehilangan momentum berharga ini. Rumahnya yang tergolong mewah itu harus dipoles sedemikian rupa supaya tampil beda dari lebaran tahun sebelumnya, mulai dari eksteriornya sampai interiornya, Susi, isterinya juga nggak kalah sibuknya, mulai dari mengganti gorden baru, karpet baru, kursi baru sampai mempersiapkan aneka kue lebaran yang semuanya harus “berkelas”. Maklum saja, suaminya memang seorang pejabat eselon dua yang sudah bertahan selama bertahun-tahun di kursinya yang tergolong “basah” itu.

Bagi Mu’in sendiri, nilai pahala ibadah di bulan Ramadhan yang berlipat ganda, bukanlah hal yang penting, karena sejak dia jadi “orang”, nyaris sangat jarang dia terlibat aktifitas ibadah, jadi baginya Ramadahan hanyalah bulan persiapan menyambut lebaran, tak lebih dari itu. Untuk orang dengan “type” seperti dia, justru lebaran itulah yang merupakan momentum yang harus benar-benar dia manfaatkan untuk mempertahankan jabatannya. Dia sama sekali tidak menyadari kalo hari raya Idul Fitri itu sejatinya hanya diperuntukkan bagi mereka yang benar-benar taat menjalankan ajaran agma selama bulan Ramadhan. Bulan penuh berkah itupun akhirnya hanya jadi alat “pencitraan” baginya. Untuk itulah, pada tahun inipun Mu’in juga hanya disibukkan dengan  mempersiapkan puluhan parcel mahal yang bakal dia “sebar” untuk mengamankan posisi “strategis”nya yang sudah memberinya berbagai kemewahan finansial bagi diri dan keluarganya. Parcel-parcel “eksklusif” itu bukan saja dia peruntukkan untuk pejabat di atasnya, tapi juga untuk pihak-pihak lain yang dia anggap berperan untuk “mengamankan” posisinya, mulai dari oknum aparat, oknum wartawan, pimpinan ormas berpengaruh sampe lembaga swadaya masyarakat yang selama ini tergolong “vokal” mengkritik kebijakannya. Mu’in tau persis, momentum lebaran merupakan waktu yang pas untuk memberikan bingkisan “penutup mulut” itu, karena dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, semua pihak yang dia “suap”, biasanya menerimanya dengan senang hati, bahkan sudah menganggap itu sebuah “tradisi

Saking sibuknya mempersiapakan lebaran, Mu’in sampe “nggak sempat” melaksanakan kewajiban yang seharusnya dia lakukan di bulan Ramadhan. Puasanya nggak pernah “nyampe”, meski tiap malam dia ikutan makan sahur dengan menu yang istimewa yang dihidangkan oleh para pembantunya, tapi puasanya hanya bertahan paling-paling sampe jam 11 siang. Dengan alasan penyakit asam lambungnya lagi kumat, seolah jadi “pembenar” bagi dia untuk melepaskan puasanya. Sholat lima waktu yang merupakan kewajiban “melekat” pada dirinya yang mengaku Muslim itupun sudah lama sekali tidak dia kerjakan, paling-paling seminggu sekali dia pergi ke masjid untuk sholat jum’at, itupun jika sedang bersama para pejabat lainnya yang dia segani. Begitu juga dengan sholat tarawih, itupun “terpaksa” dia ikuti hanya karena dia masuk di Tim Safari Ramadhan karena posisinya segai seorang pejabat.

Susi, sang isteri juga setali tiga uang, bagi dia, selama suaminya mampu memberikan apapun yang dia minta, dia tidak akan perduli dari mana suaminya memperolehnya, mau halal mau haram, sebodo amat, begitu pikirnya. Karena sejak suaminya dilantik jadi pejabat kira-kira lima tahun yang lalu, gaya hidup dan penampilannya pun berubah drastis,  begitu juga lingkungan pergaulannya juga mulai “bergeser”. Hubungan dengan tetangga mulai renggang karena dia merasa sudah “naik kelas” sehingga merasa bukan “level”nya lagi bergaul dengan para tetangga yang kebanyakan dari kalangan “biasa” itu. Pakaian dan perhiasan mahal seperti sudah menjadi “mainan” biasa baginya, soal duit, dia nggak perlu pusing-pusing, tinggal mita sama suaminya, langsung dia dapatkan, seberapapun dia minta. Mu’in sendiri begitu memanjakan istrinya, tidak lain juga sebagai bentuk ”balas budi”, karena dulunya Mu’in hanyalah seorang pegawai biasa dan dia berasal dari keluarga biasa pula, bahkan boleh dibilang dari keluarga “susah”, tapi sejak dia menikahi Susi, anak seorang mantan pejabat berpengaruh di kota itu, “derajat”nya mulai naik. Entah bagaimana cara mendapatkannya, tau-tau dua gelar sarjana sudah melekat di belakang namanya, bahkan satu gelar magister juga sudah bertengger di badge namanya.

Berbelkal  ijazah kesarjanaan yang sebenarnya “nggak jelas” itu ditambah lobby dari mertuanya yang kebetulan punya kedekatan keluarga dengan pimpinan daerah disitu, maka karir Mu’in pun melejit bagai roket luar angkasa. Hanya dalam beberapa tahun saja, dia sudah menduduki posisi “top leader” di kantornya, jabatan eselon dua itu kemudian jadi “alat” bagi dia untuk bisa hidup mewah, sesutau yang tidak pernah termimpikan sewaktu dia hidup susah dulu. Kebetulan instansi yang dia pimpin adalah instansi yang banyak kegiatan proyeknya, dan dengan “power” dan kedekatan dengan penguasa daerah, dia bisa leluasa mematok “fee” dari semua proyek yang ada di kantornya.

Meski sudah termasuk keterlaluan, tapi perilaku “illegal” dari Mu’in nyaris aman-aman saja dari sentuhan hukum, memang sih untuk “mengamankan” kecurangannya itu, nggak sedikit uang yang harus dikeluarkan buat sogok sana suap sini, toh bukan duit dari kantongku, begitu pikirnya. Mu’in nggak peduli dengan keluhan dari bawahannya yang merasa begitu tertekan dengan “kebijakan” yang dia terapkan, baginya bawahan hanyalah “alat” untuk menggapai tujuan pribadinya. Dia juga nggak takut posisinya bakal “bergeser”, karena dia begitu yakin sang penguasa daerah ada di pihaknya.

Tapi ibarat pepatah “ Sepandai-pandai tupai melompat, sekali-sekali jatuh juga”, itu pula yang kemudian terjadi pada Mu’in, akumulasi tindakan penyelewengan yang dia lakukan rupanya diam-diam dipantau oleh sebuah LSM anti korupsi, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang selama “luput” dari pantauan Mu’in. LSM itu bisa mendapatkan data detil dari para anak buah Mu’in yang memang sudah lama merasa sakit hati dizalimi oleh atasannya yang rakus itu.

Tapi lagi-lagi, Mu’in menganggap itu masalah “kecil”  yang bisa dia selesaikan dengan pengaruhnya dan nggak perlu ditakutkan, toh dia punya “beking” yang kuat. Saking pedenya akan “power” yang dia miliki, akhirnya sebuah tindakan “ceroboh” telah dilakukan oleh Mu’in, ketika ketua LSM itu menemuinya untuk klarifikasi, Muin malah marah-marah dan menantang LSM itu untuk membuktikan kecurigaanya, tak cukup disitu, mulutnya juga mengeluarkan ucapan-ucapan “kotor” bernada ancaman. Merasa ditantang, sang ketua LSM pun segera membeberkan bukti-bukti di hadapan aparat penegak hukum, dan mereka yang selama ini “tertelikung” oleh duit si Mu’in dengan bekingnya yang kuat, kali ini nggak bisa berkutik lagi, karena selain melaporkan ke aparat penegak hukum, sang ketua LSM juga membuat pers release ke berbagai media cetak maupun online, mau tak mau kasus Mu’in harus segera di “angkat”, karena sudah terpublikasikan di berbagai media.

Mu’in masih santai-santai saja menghadapi akhir bulan Ramadhan, tiga hari menjelang lebaran dia pun menjalani hari tanpa puasanya dengan tanpa beban, meski di luar sana semua tetangganya sedang menahan lapar menjalankan ibadah puasa, Mu’in dengan santainya menikmati kopi dan makanan ringan di ruang keluarga, isterinya juga nggak begitu peduli suaminya mau puasa atau tidak, yang penting kebutuhan lebaran sudah terpenuhi, dan “gengsi”nya dimata teman-teman se “level” nggak bakalan “merosot”. Bagi keluarga Mu’in, gengsi dan “harga diri” adalah segala-galanya, bahkan mengalahkan nilai-nilai kesucian bulan yang sangat dihargai oleh ummat Islam sedunia itu, gengsi dan harga diri dalam penafsiran Mu’in dan keluarganya, tidak lain hanya di ukur dengan gelimang harta dan kemewahan dunia.

Memasuki hari terakhir Ramadhan, bakda maghrib,  suara takbir dan tahmid sudah mulai bergema dari semua masjid dan musholla, tapi itu sama sekali nggak “menggerakkan” hati Mu’in untuk melangkah ke sana. Seperti tahun-tahun sebelumnya, dia paling malas kalo harus pergi takbiran ke masjid atau musholla, yang menurut dia hanya berisi orang-orang kampung yang tidak se”level” dengannya. Sejak kehidupan dan status sosialnya berubah, memang Mu’in jadi sangat angkuh, sombong dan selalu memandang sebelah mata kepada para tetangganya, dia tidak ingat kalo dulunya dia juga nggak lebih dari seorang “gembel”.

Dan akhir Ramadhan itu menjadi malam “naas” bagi  Mu’in, di saat yang lainnya gembira merayakan sebuah kemenangan, justru malam itu jadi malam terburuk baginya.Jam dinding mewah yang ada di ruang tamu menunjukkan jam sepuluh lewat lima belas menit ketika Susi dikejutkan dengan ketukan keras di pintu rumahnya, awalnya Muin dan Istrinya sempat mengeluarkan kata-kata “ngak enak”  karena dia menyangka yang datang itu tetangganya yang mau minta sumbangan untuk masjid atau musholla, atau remaja masjid yang meminta sumbangan “ta’jilan” untuk mereka yang sedang takbiran di masjid.

Tapi begitu pintu terbuka, lima orang polisi bersenjata lengkap sudah berada di teras rumah,

“Selamat malam, pak, bu, kami dari kepolisian ingin menyerahkan surat perintah penangkapan ini” kata seorang polisi yang mungkin komandan regu itu sedikit berbasa basi, dia menyodorkan sebuah amplop kepada Mu’in,

“Penangkapan apa ini, kalian tidak tau siapa saya?” Mu’in masih punya nyali untuk menggertak polisi-polisi itu,

“Maaf pak, kami hanya menjalankan perintah, silahkan bapak menyampaikan keberatan bapak di kantor polisi” para polisi itu tidak tersulut emosi dengan gertakan Mu’in,

“Sebentar, saya akan telepon atasan kalian, biar kalian tau siapa saya” sahut Mu’in masih dengan nada tinggi, Mu’in mau beranjak ke dalam mengambil handphone, tapi seorang polisi dengan sigap langsung menangkap tangannya, Mu’in berontak tapi cekalan tangan polisi itu lebih kuat, sepasang “gelang antik” segera terpasang memborgol kedua tanganya,

“Kurang ajar kalian, kulaporkan nanti sama atasan kalian, kalian bisa dipecat” Mu’in yang sudah terborgol masih juga mengeluarkan ancamannya, tapi polisi-polisi itu bergeming, mereka tetap membawa Mu’in ke mobil patroli.

Susi hanya bisa berteriak histeris melihat suaminya digelandang ke mobil patroli dalam keadaan terborgol, tapi teriakannya nyaris “tenggelam” oleh lantunan gema takbir malam itu. Para tetangga juga tidak satupun yang datang kesitu, karena mereka sudah terbiasa mendengar jeritan, makian dan kata-kata “kotor” dari dalam rumah mewah itu, jadi mereka mengira kejadian malam itu juga hanya peristiwa biasa. Hanya raungan sirine mobil patroli itu saja yang kemudian “mengusik” para tetangga untuk “mengintip” dari balik jendela rumah mereka, tak begitu jelas memang apa yang telah terjadi, tapi kalaupun mereka bisa melihat jelas apa yang sudah di alami oleh Mu’in, sepertinya mereka juga akan acuh saja, seacuh sikap Mu’in dan keluarganya pada mereka.

Tinggal Susi sendirian di rumah, dua anaknya sedang nongkrong di kafe dengan teman-teman “gaul” mereka, dan biasanya dini hari mereka baru kembali ke rumah. Beberapa kali Susi menghubungi kedua anaknya melalui hape, tapi sia-sia saja, selalu terjawab dengan nada sibuk. Ingin rasanya dia lari untuk “mengadu” kepada tetangga-tetangganya, tapi dia ragu apakah tetangganya mau mendengar pengaduannya, karena dia sendiri selama sama sekali nggak punya kepedulian terhadap tetangga.

Sementara Mu’in yang sudah sampai di kantor polisi, langsung dijebloskan kedalam sel yang sudah berisi empat orang tahanan lainnya, dia coba berontak tapi sia-sia, ocehan yang bernada angkuh dan mengancam itu sama sekali tidak digubris oleh para polisi itu, mereka tetap memsukkan Mu’in ke ruang pengap itu, sementara empat yang sudah lebih dulu jadi “penghuni” sel itu, menyambutnya dengan tatapan sinis.

Ujung Ramadhan yang bagi banyak orang jadi malam kemenangan itupun berubah menjadi malam “kelam” bagi Muin, keangkuhannya tak mampu menolongnya, kekayaannya tak mampu membantunya, bahkan istri yang selalu dimanjakan dengan gelimang harta itupun tak berdaya untuk melakukan sesuatu, dan lebih tragisnya di saat bersamaan kedua anaknya sedang asyik “dugem” dengan teman-temannya. Dan akhir Ramadhan tahun ini akan jadi awal hari- hari kelam yang akan terus menemani Mu’in, akibat keserakahan dan keangkuhannya, lantai dingin berdinding jeruji, jadi akhir “petualangan” Mu’in, benar-benar sebuah nestapa bahkan petaka baginya di ujung Ramadhan ini.

 

 

Idul Fitri, Bukan Ajang Pemborosan dan Pamer Kemewahan

Oleh : Fathan Muhammad Taufiq

Hanya tinggal beberapa hari lagi, kita akan meninggalkan bulan Ramadhan yang penuh rahmat dan ampunan, kesibukan mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut datangnya hari raya idul Fitri sudah mulai terlihat. Ada yang mulai sibuk mempersiapkan aneka kue dan hidangan lebaran, ada yang mulai sibuk memilih pakaian-pakaian bagus untuk dipakai oleh anggota keluarga di hari raya, ada yang sibuk mengecat atau mepercantik rumah, ada yang berlomba untuk membeli peralatan eletronik baru, ada juga yang sudah bersiap untuk menukar kendaraan mereka dengan yang baru. Semua kesibukan itu dilakukan mengatasnamakan menyambut hari kemenangan idul fitri, tapi benarkah semua itu ajaran dari Agama Islam?

Seperti sudah menjadi “tradisi” bagi sebagian besar ummat Islam di Indonesia dan sebagian negara-negara Asia, bahwa merayakan hari raya Idul Fitri mesti ditandai dengan semua yang seba baru dan istimewa. Mulai dari pakaian, perabotan rumah tangga, barang elektronik bahkan kendaraan, semua seakan “wajib” serba baru, begitu juga dengan menu makanan di hari spesial itu, juga harus istimewa, beda dengan hari-hari biasa.Itulah yang kemudian memicu sebagian orang  berasumsi, bahwa hari raya bagi ummat Islam itu adalah “hari pemborosan”, dimana hampir setengah atau bahkan lebih “kekuatan” ekonomi keluarga Muslim terserap disitu. Lihat saja fakta di lapangan, belanja keluarga menghadapi Idul Fitri, jumlahnya bisa sampai 6 kali lipat dari penghasilan bulanan mereka. Ada kesan bahwa ummat Islam seperti “memaksa diri” dan membebani diri dengan sesuatu yang terkadang diluar kemampuan untuk melakukannya. Yang sehari-hari jarang menyajikan menu makanan special, tiba-tiba hari itu harus memaksakan diri untuk bisa menyajikan hidangan istimewa. Yang sehari-hari tampil dengan pakaian biasa-biasa saja, ujuk-ujuk kepingin tampil glamour, padahal kemampuan finansilanya belum tentu mendukung.

Tapi, benarkah Islam mengajarkan begitu?, menilik Firman Allah SWT dalam surah Al Baqarah ayat 185, Allah hanya memerintahkan kepada ummat Islam untuk menyempurnakan puasa mereka sebulan penuh dan mengagungkan nama Allah ketika datang Idul Fitri. Cara mengagungkan nama Allah itupun sudah jelas, yaitu dengan meramaikan masjid, musholla, tanah lapang dengan sura takbir, tahlil dan tahmid, tidak tersirat dalam perintah Allah tersebut untuk merayakan Idul Fitri dengan “menumpahkan” semua potensi ekonomi yang akhirnya menimbulkan kesan berlebih-lebihan, suatu sifat yang tidak disukai Allah.

Kemudian ketika kita mengacu kepada sunnah dari Nabi Muhammad SAW, juga tidak terbersit sedikitpun perintah atau anjuran untuk merayakan Idul Fitri dengan cara yang berlebihan. Hanya ada beberapa anjuran Rasulullah dalam menyambut hari raya yang konon menjadi titik balik kembalinya fitrah manusia itu. Dan semua anjuran itu sama sekali tidak ada satupun yang “memberatkan” dan membebani ummat Islam dari kalangan apapun.

Pertama, berjalan ke tempat sholat serta mandi dan makan sebelum berangkat sholat Ied.

Sebagaimana tersebut dalam hadits riwayat  Bukhari “ Dari Sa’ad Al Muyayyib, Rasululluah bersabda, ada tiga sunnah Idul Fitri yaitu : berjalan ke tempat sholat, mandi dan makan sebelum berangkat”.

Dari hadits tersebut, jelas tidak ada anjuran atau sunnah yang memberatkan, berjalan ke tempat sholat ied artinya nggak butuh kendaraan untuk pergi ke lapangan-lapangan atau masjid tempat digelarnya sholat Ied. Mandi dan makan sebelum berangkat sholat, juga hanya merupakan aktifitas rutin sehari-hari.

Kedua, berhias dan memakai pakaian yang suci.

Sunnah nabi ini juga tidak menganjurkan kepada ummat Islam untuk berlebih-lebihan, hanya berhias dan membersihkan diri serta memakai pakaian yang bersih dan layak, sama sekali tidak tersirat harus memakai pakaian baru, perhiasan mewah dan berhias berlebihan, semua disesuaikan dengan kondisi masing-masing, tidak ada keharusan tertentu yang meberatkan.

Ketiga, bertakbir.

Rasulullah SAW menganjurkan kepada ummatnya untuk membaca takbir, tahlil dan tahmid, mulai sejak berangkat dari rumah menuju tempat sholat Ied sampai dengan sebelum dimulainya sholat. Mebaca takbir tersebut disarankan dengan suara lantang dan bersama-sama, karena pada masa perjuangan nabi kita Muhammad SAW, gemuruh suara takbir dari ummat Islam pada waktu itu, mampu menggetarkan dan menciutkan nyali dari musuh-musuh ummat Islam yaitu kaum kafir dan musyrik.

Ada juga sebagian sahabat dan ulama yang menganjurkan takbir ini dimulai sejak malam hari raya, namun tidak ada anjuran untuk bertakbir keliling dengan kendaraan, apalgi kalau kesannya sampai mengganggu ketenangan dan ketenteraman. Namun jika dilakukan secara santun dan terkontrol dengan baik, tentu tidak ada salahnya, karena itu bisa menjadi bagian dari syiar agama, namun demikian mengontrol emosi massa yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan itu bukan hal yang mudah. Jadi memang sebaiknya takbiran ini dilaksanakan di masjid atau mushalla.

Keempat, melaksanakan sholat Ied secara berjamaah.

Inilah yang sebenarnya menjadi inti dari perayaan Idul Fitri, seluruh ummat Islam berbondong-bondong menuju masjid atau tanah lapang untuk bersama-sama menjalankan ibadah sunnat mu’akkad yaitu sholat Idul Fitri. Disitulan jurang pemisah, pembatas status social dan kesenjangan antara si kaya dengan si miskin dihapuskan, dan memang itulah makna dari idul fitri yang berarti kembali ke fitrah, dimana akan timbul kesadaran bahwa derajat manusia di sisi Allah itu sama, hanya tingkat keimanan dan ketaqwaan sajalah yang membedakannya.

Kelima, memperbanyak sedekah.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah menganjurkan kepada ummatnya untuk meilik jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang dari menjalankan shlat ied. Ternyata dalam himbauan Rasulullah tersebut tersirat pesan bahwa ketika kita melalui jalan yang sama ketika berangkat dan pulang dari sholat ied, yang akan kita lihat juga akan sama, tapi jika kita melalui jalan yang erbeda, mungkin kita akan melihat sesuatu yang berbeda. Pada masa Rasululullah, ketika beliau berjalan menuju lapangan tempat sholat Ied, beliau juga memperhatikan para fakir miskin di sepanjang jalan yang beliau lalui, dan momentum itu beliau mafaatkan untuk memperbayak sedekah kepada para dhuafa tersebut. Jika hanya melalui jalan yang sama, jumlah sedekah kita hanya satu kali, namun jika mengambil jalan memutar, volume sedekah kita juga akan menjadi dua kali lipat.

Selain anjuran bersedekah di sepanjang jalan yang dilalui saat berangkat maupun pulang dari sholat Ied, Rasulullah juga menganjurkan untuk berbagi makanan dan kebutuhan lainnya kepada mereka yang mebutuhkan, sehingga semua ummat Islam baik yang kaya maupun yang papa, bisa menyambut gembira kedatangan hari raya itu.

Keenam, mempererat tali silaturrahmi.

Momentum hari raya Idul Fitri juga menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi baik dengan orang tua, sanak family, tetangga dan handai taulan. Disinlah yang kemudian dimaknai oleh sebagian orang untuk menyediakan makanan dan minuman special bagi para tamu, ya meski kita di sunnahkan untuk memuliakan tamu dengan makanan dan minuman, namun tidak mesti berlebihan dan memaksakan diri. Bahkan jika terlalu berlebihan akan menimbulkan riya dan kesombongan, dimana kemudian orang membandingbandingkan menu makanan yang tersaji dari satu keluarga ke keluarga lainnya,  perbedaan yang ada bahkan mungkin akan jadi sumber fitnah, dan itu yang harus kita hindari pada saat hati kita kembali kepada kesucian.

Begitu juga dengan pakaian pada saat silaturrahmi dengan sesame Muslim, tentu tidak boleh hanya berpatokan kepada selera, tapi juga harus mepertimbangkan factor tenggang rasa. Jangan sampai seagian ummat Islam  menjadi minder atau rendah diri karena tidak bisa memebeli pakaian bagus dan mahal, ini bisa jadi penghambat dan kendala untuk mempererat tali silaturrahmi antar sesame Muslim.

Ada kecenderungan sebagian keluarga Muslim, untuk “memamerkan” property rumah tangga mereka, mulai dari perabot rumah tangga sampai barang elektronik kepada tamu yang datang bersilaturrahmi, jelas itu bukan anjuran dari Rasulullah, karena beliau selalu menganjurkan kesederhanaan dalam semua hal, sehingga tidak ada keseganan siapapun untuk masuk dan bertamu ke rumah kita.

Untuk bersilaturrahmi, mungkin juga butuh sarana transportasi, khususnya untuk mengunjungi orang tua atau sanak family yang berada jauh dari tempat kita, tapi tidak mesti juga kita harus memaksakan diri untuk membeli kendaraan baru. Harus ada perasaan tenggang rasa kepada mereka yang kurang beruntung tidak memiliki kendaraan sendiri. Kendaraan baru juga bisa meicu timbulnya keangkuhan dan kesombongan, sifat yang seharusnya kita “kubur” pada saat kita kembali ke fitrah ini.

Menyimak keenam point anjuran tersebut di atas, jelas tidak ada satupun himbauan apalagi perintah untuk menyambut Idul Fitri secara berlebihan, apalagi sampai memaksakan diri, misalnya dengan berhutang kesana kemari yang ujung-ujungnya akan menyulitkan diri sendiri pasca lebaran. Sebagai ummat Islam yang juga ummat Nabi Muhammad SAW, sudah semestinya kita bercontoh dari kesederhanaan Rasulullah dalam menyambut hari dimana kita kembali kepada fitrah kita. Namun jika kita belum mampu mengendalikan nafsu kita ketika memasuki Idul Fitri, agaknya kita masih harus mempertanyakan kesucian yang akan kita raih pada saat Idul Fitri ini.

Bukan menggurui atau menceramahi, namun penulis berharap, apa yang penulis bagikan lewat tulisan ini bisa jadi bahan renungan bagi kita semua, bahwa Idul Fitri bukanlah sebuah tradisi yang harus kita meriahkan dengan sesuatu yang serba “wah”, tapi Idul Fitri adalah momentum untuk introspeksi agar kita tetap bisa menjaga kesucian hati dan perbuatan kita setelahnya. Sangat tepat kiranya sebuah riwayat yang menyatakan “Idul fitri bukanlah karena pakaian yang baru, tapi hakekat Idul Fitri adalah kembalinya kesucian hati”, semoga berm

KRPL, Cara Penuhi Kebutuhan Pangan Dari Pekarangan

Oleh : Fathan Muhammad Taufiq*)

Salah satu aspek ketahanan pangan yang saat ini menjadi issu yang sangat krusial hampir di semua negara, khususnya di negara-negara  berkembang, adalah masalah ketersediaan pangan. Beruntung kita tinggal di Indonesia dimana masih sangat banyak potensi sumber daya alam untuk pengembangan ketersediaan pangan ini, namun masih perlu upaya dan kerja keras agar potensi tersebut dapat termanfaatkan secara optimal.

Ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup sepanjang waktu merupakan keniscayaan yang tidak terbantahkan. Hal ini menjadi prioritas pembangunan pertanian nasional dari waktu ke waktu. Ketersediaan pangan yang mencukupi kebutuhan setiap individu, dimulai dari ketersediaan pangan keluarga, dimana setiap keluarga harus mampu menyediakan pangan bagi anggota keluarga dengan memanfaatkan potensi yang ada dalam keluarga tersebut. Kedepan, setiap rumah tangga diharapkan mengoptimalisasi sumberdaya yang dimiliki, termasuk potensi lahan pekarangan dalam menyediakan pangan bagi keluarga.

Optimalisasi lahan pekarangan melalui KRPL

Untuk merangsang pemanfaatan pekarangan sebagai salah satu penyedia pangan keluarga, sejak tahun 2011 yang lalu, Kementerian Pertanian telah menginisiasi optimalisasi pemanfaatan pekarangan melalui konsep Rumah Pangan Lestari (RPL). RPL adalah rumah penduduk yang mengusahakan pekarangan secara intensif untuk dimanfaatkan dengan berbagai sumberdaya lokal secara bijaksana yang menjamin kesinambungan penyediaan bahan pangan rumah tangga yang berkualitas dan beragam. Apabila RPL dikembangkan dalam skala luas, berbasis desa (kampung)  atau wilayah pemukiman lain yang memungkinkan, penerapan prinsip Rumah Pangan Lestari disebut Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Selain memanfaatkan pekarangan rumah keluarga sebagai basis rumah pangan lestari, KRPL juga mencakup upaya intensifikasi pemanfaatan pagar hidup, jalan desa, dan fasilitas umum lainnya (sekolah, rumah ibadah, dan lainnya), lahan terbuka hijau, serta mengembangkan pengolahan dan pemasaran hasil.

Konsep KRPL yang dicanangkan oleh Kementerian Pertanian memiliki prinsip optamimalisasi lahan yang selama ini nyaris tidak termanfaatkan untuk penyedaan pangan keluarga dan masyarakat, secara umum KRPL memiliki prinsip utama yaitu :

  1. Pemanfaatan pekarangan rumah dan fasilitas umum yang memungkinkan yang ramah lingkungan dan dirancang untuk meningkakan ketahanan dan kemandirian pangan,
  2. Diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal,
  3. Konservasi sumberdaya genetik pangan (tanaman, ternak, ikan)
  4. Menjaga kelestarian plasma nutfah spesifik lokasi melalui kebun bibit desa
  5. Peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Karena konsep KRPL ini berbasis keluarga, maka pelaku utama dari program ini adaah seluruh anggota keluarga. Namun demikian karena lingkup kegiatan ini berada disekitar rumah atau tempat kediaman keluarga, maka kegiatan ini lebih diarahkan bagi kaum perempuan (ibu rumah tangga) agar mereka lebih produktif dalam membentu memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Untuk memudahkan koordinasi, pembinaan dan penyuluhan, para perempuan itu kemudian disarankan untuk membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT). Meski demikian kegiatan ini juga tidak menutup kemungkinan melibatkan kaum pria, khususnya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dianggap berat bagi perempuan seperti membuat kandang ternak, memasang pagar, menggali kolam ikan, mengangkat pupuk, mengangkut hasil panen dan sebagainya. Sementara kegiatan “reguler” seperti menanam, menyiangi tanaman, memupuk, menyiram dan memanen dapat dilakukan oleh para perempuan.

Untuk menjaga keberlanjutan dan mendapatkan nilai ekonomi dari KRPL, pemanfaatan pekarangan diintegrasikan dengan unit pengolahan dan pemasaran produk. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya penyelamatan hasil yang melimpah dan peningkatan nilai tambah produk.

Sedangkan dampak yang diharapkan dari pengembangan KRPL ini antara lain:

  1. Terpenuhinya kebutuhan pangan dan gizi keluarga dan masyarakat melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan secara lestari.
  2. Meningkatnya kemampuan keluarga dan masyarakat dalam pemanfaatan pekarangan di perkotaan maupun perdesaan untuk budidaya tanaman pangan,buah, sayuran dan tanaman obat keluarga (toga), ternak dan ikan, serta pengolahan hasil dan limbah rumah tangga menjadi kompos.
  3. Terjaganya kelestarian dan keberagaman sumber pangan lokal.
  4. Berkembangnya usaha ekonomi produktif keluarga untuk menopang kesejahteraan keluarga dan menciptakan lingkungan lestari dan sehat.

Pemilihan Komoditas

Komoditas yang akan dikembangkan melalui penerapan konsep KRPL harus disesuaikan dengan kebutuhan pangan dan gizi keluarga, berbasis sumber pangan lokal, dan bernilai ekonomi. Artinya komoditi yang akan dikembangkan dalam KRPL tersebut memang komoditi yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarga, berbasis sumberdaya pangan lokal yang sudah dikenal secara turun temurun di daerah tersebut, serta memiliki nilai ekonomis, artinya  jika hasil yang didapatkan melebihi kebutuhan keluarga, kelebihan hasil tersebut dapat dijual untuk menambah penghasilan keluarga.

Untuk itulah, Kementerain Pertanian telah merekomenasikan beberapa komoditi yang sesuai untuk pengembangan KRPL ini. Komoditas tersebut antara lain sayuran, tanaman rempah dan obat, buah-buahan (pepaya, belimbing, jambu biji, srikaya, sirsak, dan buah lainnya, disesuaikan dengan lokasi), dan pangan lokal (ubi jalar, ubi kayu, ganyong, garut, talas, suweg, ubi kelapa, gembili, labu kuning, dan pangan lokal lainnya).

Pada pekarangan Strata 2 dan 3 yang memiliki areal yang lebih luas, pengembangan KRPL juga dapat ditambahkan dengan budidaya ikan dalam kolam dan ternak unggas atau ternak lainnya. Sesuai dengan kondisi lahan, agroklimat dan kesesuaian lahan, maka tiap kawasan menentukan komoditas unggulan yang dapat dikembangkan secara komersial, bisa saja antara satu daerah dengan daerah lainnya, komoditi yang dikembangkan berbeda-beda, sesuai dengan spesifikasi dan keraifan lokal setempat..

Konsepsi Lestari

Disebut Kawasan Rumah Pangan Lestari, karena pengembangan KRPL memang mengandung konsep lestari, artinya pemanfaatan sumberdaya pekarangan ini dilakukan secara berkesinamungan atau terus menerus, karena kebutuhan pangan bagi keluarga juga berlaku secara terus menerus. Meski dilakukan secara terus menerus, namun komoditi yang dikembangkan bisa saja berubah atau berganti disesuaikan dengan musim atau kondisi iklim setempat.

Agar konsep KRPL ini terus lestari, para petugas lapangan setempat dan ketua kelompok agar sejak awal dilibatkan secara aktif mulai perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan. Diharapkan keterlibatan ini akan memudahkan proses keberlanjutan dan kemandiriannya.

Secara program, pengembangan awal KRPL ini memang difasilitasi oleh pemerintah melalui pemberian stimulant berupa bibit, pupuk, obat-obatan, sarana dan prasarana pendukung dan bantuan teknis berupa pelatihan.  Namun untuk selanjutnya, diharapakan setiap keluarga dapat melanjutkan kegiatan ini secara mandiri, karena hasil yang diperoleh dari kegiatan ini juga untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga mereka sendiri.

Beberapa faktor lain yang mendukung keberlanjutan KRPL adalah ketersediaan benih/bibit, penanganan pascapanen dan pengolahan, dan pasar bagi produk yang dihasilkan. Untuk itu diperlukan penumbuhan dan penguatan kelembagaan Kebun Bibit Desa (KBD), unit pengolahan hasil pertanian, dan kemudahan akses pemasaran. Selanjutnya, untuk mewujudkan kemandirian kawasan, maka dilakukan pengaturan pola dan rotasi tanaman termasuk sistem integrasi tanaman dengan ternak.

Sementara pada tingkat lanjut, KRPL juga ditujukan untuk pemenuhan Pola Pangan Harapan, dan untuk memenuhi Pola Pangan Harapan, diperlukan model diversifikasi yang dapat memenuhi kebutuhan kelompok pangan (padi-padian, aneka umbi, pangan hewani, minyak dan lemak, buah/biji berminyak, kacang-kacangan, gula, sayur dan buah, dan lainnya) bagi keluarga. Melalui model lanjutan pengembangan KRPL  ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan keluarga.

Pelaksanaan Pengembangan KRPL

Sebagai program yang baru diperkenalkan kepada masyarakat, tentunya pengembangan KRPL juga harus melalui tahapan-tahapan, mulai dari sosialisasi, penyiapan lahan, penanaman dan pemeliharaan tanaman, penyediaan kebun bibit desa dan kebun percontohan. Sedang pada tahap lanjutan, dapat ditampah dengan unit pengolahan hasil dan pemasaran..

  1. Sosialisasi dan Pelatihan

Untuk memperkenalkan program KRPL ini, langkah awal yang harus dilakukan adalah melakukan soialisasi kepada masyarakat yang akan menjadi sasaran kegiatan. Sosialisasi dilakukan oleh tim kepada warga di suatu kawasan perdesaan/perkotaan dengan melibatkan pemerintah daerah, penyuluh, tokoh masyarakat, untuk menyampaikan maksud dan tujuan pengembangan KRPL serta membuat perencanaan kegiatan. Sosialisasi dan pelatihan ini meliputi beberapa kegiatan antara lain : Pelatihan bagi pendamping (Training of Trainers), Pelatihan teknis bagi peserta, serta pembinaan lanjutan oleh para penyuluh pertanian dan stake holders terkait .

Pelatihan dilaksanakan untuk membekali warga tentang teknologi yang akan diterapkan pada kawasan. Pelatihan meliputi teknik budidaya tanaman, perbenihan/pembibitan, pengolahan hasil dan pemasaran sampai dengan  pengelolaan limbah.

  1. Penyiapan Lahan dan Media Tanam

Antusiasme dan partisipasi warga saat penyiapan lahan di pekarangan, media tanam, kelengkapan vertikultur, sangat menentukan keberhasilan program. Penyiapan media dan wadah tanaman menggunakan bahan baku lokal seperti bambu, wadah dari barang/kemasan bekas pakai, dilakukan oleh warga dengan bimbingan para penyuluh. Penyipana media tanam vertikultur bukanlah kebutuhan mutlak, karena hanya dibutuhkan pada kawasan yang lahan pekarangannya sangat sempit, tapi untuk kawasan dengan areal pekarangan yang luas, budidaya dapat dilakukan langsung pada lahan pekarangan, bahkan dapat dipadukan dengan konsep integrasi tanaman, ternak dan ikan.

  1. Perawatan Tanaman dan pemilharaan komoditi

Perawatan tanaman secara rutin oleh warga dengan penyiangan, penyiraman, pemberian pupuk kandang, pemasangan ajir untuk penopang tanaman, pemeriksaan dan pengendalian hama/penyakit tanaman. Sementara pada pemeliharaan ayam/ternak atau ikan, pemeliharaan dilakukan dengan pemberian vaksin dan pemeriksaan kesehatan ternak secara berkala, pemberian pakan secara berimbang dan pemeriksaan kebersiahan dan sanitasi kandang. Dalam fese perawatan dan pemeliharaan ini, para peserta akan terus mendapatkan pendampingan dan pembinaan oleh para penyuluh dan stakeholders terkait

  1. PengembanganKebun Bibit Desa (KBD) dan Kebun Percontohan

Konsepsi lestari yang diusung oleh program KRPL, mengharuskan setiap desa memiliki  Kebun Bibit Desa (KBD), keberadaan kebun bibit ini adalah untuk menjaga kesinambungan program pemanfatan pekarangan ini. Kenapa setiap desa harus memiliki KBD?, karena setiap daerah atau kawasan meiliki spesifikasi komoditi, sehingga kebutuhan bibit yang diperlukan oleh masyarakat juga harus dibuat di desa atau kawasan tersebut, karena bibit yang dikembangkan di daerah sendiri tentu sudah meiliki daya adaptasi yang baik, sehingga dapat memperkecil terjadinya gagal tanam dan gagal panen.

Boleh dibilang KBD  merupakan jantung KRPL, karena bisa menjadi tempat produksi benih dan bibit untuk RPL dan kawasannya. Keberadaan KBD juga bisa menjadi asset desa atau kelompok tani karena benih/bibit hasil produksi kebun bibit ini dijual untuk masyarakat dan hasilnya bisa mengisi kas desa/kelompok tani yang bisa dinafaatkan untuk pengembangan dan penguatan klembagaan kelompok tani itu sendiri.

Selain kebun bibit, program KRPL juga menghendaki adanya Kebun Percontohan, keberadaan kebun percontohan ini sangat penting untuk menjadi contoh dan acuan dalam penerapan konsep budidaya di KRPL. Kebun percontohan juga bisa menjadi wahana pembelajaran bagi warga sekaligus konservasi sumber daya genetic untuk melindungi dan melestarikan plasma nutfah spesifik lokasi atau kawasan tersebut. Karena sifatnya sebagai percontohan atau acuan bagi warga, maka Kebun Percontohan harus dikelola dengan baik, sedangkan pengelolaannya dapat dilakukan melalui kerjasama antara penyuluh pertanian, KWT, PKK desa dan stake holders terkait lainnya.

Selanjutnya ketika program KRPL ini telah berhasil, dan produk yang dihasilkan dari pekarangan keluarga ini melebihi kebutuhan pangan keluarga, maka kelebihan hasil ini dapat dijual atau dipasarkan, baik di lingkungan desa maupun keluar desa> Hasil penjualan produk pertanian asal pekarangan ini tentunya akan sangat bermanfaat untuk menambah pendapatan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Ini berarti program KRPL juga memiliki manfaat ganda, yaitu sebagai penyedia pangan keluarga sekaligus pendongkrak perekonomian keluarga.

Sementara untuk penganekaragaman konsumsi pangan, pengolahan hasil pertanian menjadi kuncinya. Satu jenis komoditi, misalnya ubi kayu, dapat diolah menjadi berbagai jenis pangan olahan dengan performa dan rasa berbeda. Dengan sedikit keterampilan mengolah bahan pangan, ubi kayu dapat disajikan sebagai keripik, kerupuk ubi, tape, kue talam, lemet/lepat, tiwul, getuk dan sebagainya. Produk pertanian yang sudah diolah sedemikian rupa, tentu nilai jualnya juga akan lebih tinggi, jadi usaha pengolahan hasil ini juga bisa menjadi sarana untuk meningkatkan pendapatn keluarga. Dan untuk bisa mengolah berbagai produk pangan hasil dari pekarangan ini, dapat dilakukan melalui pelatihan atau simulasi yang difasilitasi oleh desa serta penyuluh yang bertugas di desa tersebut..

Selama ini kita mungkin berenggapan, bahwa keberadaan pekarangan hanyalah sebagai pelengkap sebuah rumah, namun ternyata jika dioptimalkan pemanfaatannya, pekarangan rumah yang tidak luas pun dapat menjadi penyedia pangan keluarga, bahkan dapat menstimulasi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan keluarga, dan pengembangan KRPL adalah salah satu cara untuk mengoptimalkan pemanfatan pekarangan tersebut. Kemauan masyarakat serta dukungan dari pemerintah daerah, tentu saja akan menjadi kunci keberhasilan program ini.

Semoga catatan kecil ini bisa menjadi masukan bagi instansi dan stakeholders yang terkait dengan pembinaan ketahanan pangan di daerah, dan bisa menjadi motivasi bagi masyarakat untuk dapat memanfaatkan pekarangan rumah mereka untuk kegiatan produktif.

*) Kasi Metoda dan Informasi Pertanian pada Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Tengah, Pemerhati dan penulis artikel Pertanian dan Ketahanan Pangan di media cetak dan media online.

Lut Tawar Punya Bawang Merah Jawara

Catatan : Fathan Muhammad Taufiq *)

Puncaknya, di ajang Pekan Nasional (Penas) XV Petani Nelayan yang digelar di provinsi Aceh, dari tanggal 6 – 11 Mei 2017 yang lalu, bawang merah lokal Gayo dari kabupaten Aceh Tengah ini, mampu menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu varietas bawang merah terbaik di Indonesia. Dalam Kontes Hortikultura tingkat nasional ini, bawang merah yang diusung Kaslil, mampu meraih Jura 3, bersanding dengan Jura 1 dari Grobogan, Jawa Tengah dan Juara 2 dari Cirebon, Jawa Barat. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa bawang merah lokal Gayo asal kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah ini memiliki kualitas yang sangat baik, sehingga layak mendapat pengakuan sebagai komoditas unggul nasional.

Begitu disebut komoditi Bawang Merah (Alium cepa), asumsi sebagian orang langsung akan tertuju ke Brebes, Jawa Tengah. Daerah yang berada di jalur Pantura Pulau Jawa tersebut memang sudah lama dikenal sebagai sentar produksi bawang merah terbesar di Indonesia, sampai-sampai orang mengindentikkan bawang merah dengan bawang Brebes. Kabupaten Solok di Sumatera Barat kemudian menyusul sebagai sentra produksi bawang merah baru, dan ternyata areal tanam bawang merah di daerah berhawa dingin ini jauh lebih luas dari areal tanam bawang Brebes. Jadilah kini Brebes dan Solok dikenal sebagai produsen utama bawang merah di negeri kita.

Anggapan sebagian besar masyarakat yang berasumsi bahwa bawang merah adalah bawang Brebes, membuat ketergantungan pasokan dari Pulau Jawa, khususnya Brebes membuat komoditi kerap menjadi salah satu penyumbang inflasi. Ketika produksi di Brebes menurun, maka akan terjadi kelangkaan bawang di pasaran, dan harga akan melambung naik. Meski “kuota” bawang merah mulai terbagi dengan kabupaten Solok, namun tetap saja Brebes menjadi “kiblat” produksi bawang merah dalam negeri.

Kebutuhan konsumsi bawang merah yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, membuat pemerintah melalui Kementerian Pertanian kemudian memasukkan komoditi ini sebagai komoditi prioritas. Agar terjadi keseimbangan produksi, maka sejak beberapa tahun yang lalu, bawang merah dijadikan sebagai salah satu komoditi prioritas yang dikembangkan melalui program Upaya Khusus (Upsus) di seluruh wilayah Indonesia yang meiliki potensi untuk pengembangan komoditi ini. Menurut hasil inventarisasi yang dilakukan oleh Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat, Kementerian Pertanian, banyak daerah yang punya potensi untuk pengembangan bawang merah, namun karena belu terprogram dan terencana dengan baik, maka aktiftitas usaha tani bawang merah belum dianggap sebagai bididaya utama. Daerah seperti Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jawa Barat, Kalimantan dan Sulawesi, memerupakan beberapa daerah yang sebenarnya memiliki potensi untuk pengembangan bawang merah, namun belum tergarap secara optimal.

Geliat bawang merah lokal Gayo.

Dilihat dari syarat tumbuhnya, komoditi bawang merah sebenarnya bisa ditanam di berbagai jenis dan ketinggian tanah. Komoditi ini bisa tumbuh dan berkembang dengan baik di dataran rendah seperti Brebes, tapi juga mampu berproduksi optimal di dataran tinggi seperti Solok.

Kabupaten Aceh Tengah yang berada di dataran tinggi Gayo juga merupakan daerah yang potensial untuk pengembangan komoditi bawang merah ini. Sudah sejak beberapa tahun yang lalu, para petani yang berada di pinggiran Danau Laut Tawar di wilayah kecamatan Bintang dan Lut Tawar, sudah mulai mengembangkan komoditi ini, Bahkan bawang merah asal Nosar, kecamatan Bintang sudah cukup lama dikenal oleh konsumen di seputaran kota Takengon dan sekitarnya. Sementara itu di wilayah kecamatan Lut Tawar, penyebaran komoditi bawang merah malah sudah merata hampir ke semua desa, mulai dari desa Rawe, Toweren, Pedemun dan Kenawat. Luas areal pertanaman bawang merah di kecamatan ini setiap tahunnya juga mengalami peningkatan. Harga komoditi ini yang relatif stabil sepanjang tahun, menjadi salah satu daya tarik bagi petani untuk mengembangkan komoditi ini di lahan pertanian mereka.

Budidaya bawang merah lokal di Aceh Tengah

Berkembangnya budidaya bawang merah di dataran tinggi Gayo ini tidak terlepas dari peran para penyuluh pertanian yang aktif mensosialisasikan pengembangan komoditi ini. Tak hanya mensosialisasikan kepada petani, para penyuluh pun ikut menanam bawang merah untuk memberikan contoh dan motivasi bagi petani. Seperti yang dilakukan oleh Kaslil, penyuluh yang bertugas di kecamatan Lut Tawar ini, sudah beberapa tahun terakhir ini dia menekuni budidaya bawang merah di lahan miliknya. Dia mencoba membudidayakan beberapa varietas untuk membandingkan varietas mana yang produktivitasnya nilai jualnya tinggi. Beberapa varitas seperti Bima Brebes, Gelugur, Bali Ijo, Medan dan varietas bawang merah lokal, dia kembangkan di lahan pertanian miliknya. Sampai akhirnya dia berkesimpulan bahwa bawang merah lokal Gayo yang telah dikembangkan bertahun-tahun di daerah ini, merupakan jenis bawang yang paling cocok untuk dikembangkan di dataran tinggi Gayo ini. Menurutnya, bawang merah lokal meiliki beberapa keunggulan, diantaranya bentuk umbinya padat, rasa dan aromanya tajam, dan warna umbinya merah mengkilat sehingga menarik minat konsumen. Selain itu bawang lokal juga memiliki daya adaptasi yang cukup tinggi serta cukup resisten terhadap serangan hama dan penyakit tanaman.

Juarai Kontes Hortikultura.

Apa yang disampaikan oleh kaslil memang buakn omong kosong, tahun lalu dia pernah memperkenalkan bawang merah lokal Gayo ini dalam pameran yang digelar dalam rangka Pertemuan Koordinasi Peningkatan Produksi Bawang Merah dan Cabe yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertanian bertempat di Kuta, Bali.  Dan bawang merah asal kecamatan Lut Tawar yang diusungnya mampu menyedot perhatian pengunjung pameran tersebut, bahkan mendapat perhatian kusus dari Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Spudnik Sujono Kamino. Dalam pameran tersebut, bawang merah lokal Aceh Tengah ini  bisa bersanding sejajar dengan 150 sampel bawang merah dari berbagai daerah di Indonesia.

Kaslil menerima plakat Juara 3 Bawang Merah Nasional dalam Kontes Hortikultura

Puncaknya, di ajang Pekan Nasional (Penas) XV Petani Nelayan yang digelar di provinsi Aceh, dari tanggal 6 – 11 Mei 2017 yang lalu, bawang merah lokal Gayo dari kabupaten Aceh Tengah ini, mampu menunjukkan eksistensinya sebagai salah satau varietas bawang merah terbaik di Indonesia. Dalam Kontes Hortikultura tingkat nasional ini, bawang merah yang diusung Kaslil, mampu meraih Jura 3, bersanding dengan Jura 1 dari Grobogan, Jawa Tengah dan Juara 2 dari Cirebon, Jawa Barat. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa bawang merah lokal Gayo asal kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah ini memiliki “kelas” tersendiri, kualitas yang sangat baik suah tidak diragukan lagi, sehingga layak mendapat pengakuan sebagai komoditas unggul nasional. Namun semua itu harus disertai upaya pengembangan komoditi yang tetap berorientasi untuk terus mempertahankan dan meningkatkan kualitasnya. Salah satu upaya mepertahan kualitas bawang merah lokal Gayo ini adalah dengan memperjuangkan agar komoditi segera mendapatkan sertifikasi dari pemerintah.

Kabupaten Aceh Tengah sebenarnya sangat kaya aan potensi pertanian, namun belum semuanya tereksploitasi secara optimal. Komoditi unggul daerah seperti Alpukat, Jeruk, Nanas, Kentang dan Bawang Merah merupakan beberapa komoditi unggulan yang jika dikembangkan secara optimal, akan mampu mengangkat perekonomian masyarakat Gayo, sehingga tidak selalu mengandalkan satu komoditi saja yaitu Kopi Gayo sebagai tulang punggung perekonomian masyarakat. Untuk bisa mengoptimalkan potensi pertanian tersebut, tentunya dibutuhkan sinergi semua pihak, dan peningkatan peran penyuluh pertanian, menjadi salah satu kunci keberhasilan program pertanian di tanah Gayo ini.